275 Kebakaran Terjadi di Klaten, 119 Kasus Gara-Gara Bakar Sampah

Angga Purenda • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 17:03 WIB
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo terkait penanganan pemadaman kebakaran bersama Petugas Damkar Satpol PP dan Damkar Klaten di TPA Troketon, Pedan, Klaten, Selasa (1/9/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo terkait penanganan pemadaman kebakaran bersama Petugas Damkar Satpol PP dan Damkar Klaten di TPA Troketon, Pedan, Klaten, Selasa (1/9/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Sebanyak 275 kasus kebakaran terjadi di Kabupaten Klaten sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Aktivitas yang terlihat sepele, yakni membakar sampah, justru menjadi penyebab terbanyak dengan 119 kejadian.

Data Bidang Pemadam Kebakaran (Damkar) dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Klaten mencatat, selain pembakaran sampah, kebakaran dipicu korsleting listrik sebanyak 29 kasus, tungku masak 21 kasus, overheat 16 kasus, dan kebocoran gas tujuh kasus. Sementara itu, penyebab 72 kejadian lainnya masih belum diketahui secara pasti.

Baca Juga: TPA Putri Cempo Terbakar, DPRD Solo Siapkan BTT Rp 7,5 Miliar untuk Antisipasi Bencana

Kebakaran akibat pembakaran sampah juga berkontribusi terhadap luasnya lahan yang terbakar. Objek yang paling banyak terdampak adalah lahan kosong dan ladang tebu dengan 125 kejadian, disusul rumpun bambu sebanyak 27 kejadian.

Kepala Bidang Damkar Satpol PP dan Damkar Klaten Sumino mengatakan peningkatan kasus kebakaran mulai terasa memasuki musim kemarau, terutama pada Agustus 2026. Sebagian kebakaran lahan dan sampah berawal dari aktivitas warga membersihkan lingkungan.

Baca Juga: Laka KA Majapahit Vs Pikap di Kalijambe Sragen, Sopir Diduga Kurang Konsentrasi

“Untuk pembakaran sampah dan lahan ini kan awalnya dari sisa-sisa kebersihan. Masyarakat kadang membakar sampah sedikit, namun karena banyak daun kering dan rerumputan, potensi perambatannya menjadi cukup luas,” ungkap Sumino saat dihubungi, Senin (7/9/2026).

Meski sebagian besar kebakaran melanda lahan kosong, dampaknya tetap merembet ke sejumlah fasilitas. Beberapa kejadian bahkan menyebabkan kandang ternak dan gudang barang bekas ikut terbakar.

“Untuk dampak ke bangunan utama sementara belum, tapi ada beberapa kejadian api merembet ke kandang ternak hingga ikut terbakar. Selain itu, ada juga gudang rosok yang terdampak. Asapnya juga beberapa kali sempat mengenai warga,” jelasnya.

Baca Juga: Harga Mobil LCGC September 2026 Mulai Rp141 Jutaan, Ini yang Paling Murah

Salah satu kejadian terbaru terjadi di lahan tebu Desa Beluk, Kecamatan Bayat, Senin (7/9). Kebakaran tersebut disebut bermula dari pembakaran daun kering yang kemudian merembet ke area pertanian.

Berulangnya kejadian serupa membuat Damkar Klaten terus memberikan edukasi kepada masyarakat. Sumino menegaskan, pihaknya tidak menyarankan warga membakar sampah maupun lahan karena api berpotensi dengan cepat merambat saat kondisi kering.

Namun, jika warga tetap melakukan pembakaran untuk keperluan tertentu, pengawasan harus dilakukan secara ketat. Area pembakaran juga diminta dibuat sekat agar api tidak mudah menjalar.

“Kalau dibakar sebenarnya kami tidak menyarankan, karena bagaimanapun membakar yang berpotensi kebakaran itu tidak diperbolehkan. Tapi, kalau terpaksa, pastikan dibuat sekat-sekat terlebih dahulu, diawasi dan ditungguin. Jangan sampai merugikan pihak lain,” tegasnya.

Damkar juga akan memberikan teguran kepada warga yang sengaja membakar lahan tanpa pengawasan, terlebih jika tindakan tersebut dilakukan berulang dan menimbulkan kebakaran yang akhirnya harus ditangani petugas.

Langkah tersebut diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pembakaran sampah yang tidak diawasi dapat berujung pada kebakaran yang lebih luas dan mengancam lingkungan maupun fasilitas di sekitarnya. (ren)

Editor : Kabun Triyatno
api lahan klaten kebakaran korsleting listrik