RADARSOLO.COM – Aktivitas Gunung Merapi masih terus dipantau. Berdasarkan data pengamatan Badan Geologi melalui Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Gunung Merapi mengalami puluhan gempa selama periode pengamatan Rabu (9/9/2026) dini hari hingga pagi.
Dalam periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, tercatat sebanyak 16 kali gempa guguran dan 14 kali gempa hybrid atau fase banyak. Dengan demikian, selama enam jam periode pengamatan tersebut terjadi total 30 kali aktivitas kegempaan.
Gempa guguran tercatat memiliki amplitudo 1-37 milimeter dengan durasi 50,58-182,36 detik. Sementara gempa hybrid atau fase banyak terjadi sebanyak 14 kali dengan amplitudo 2-27 milimeter.
Baca Juga: Apa Isi Video Guru SD Pekalongan Viral? Rekaman 21 Detik Bikin Kepsek Kena Sanksi
Gempa hybrid memiliki selisih waktu S-P antara 0,3-0,5 detik dengan durasi 14,47-58,06 detik.
Secara visual, kondisi puncak Gunung Merapi belum dapat diamati secara maksimal karena cuaca mendung. Gunung tercatat tertutup kabut pada tingkat 0 hingga III, sementara asap kawah tidak teramati.
Berdasarkan pengamatan meteorologi, cuaca di sekitar Gunung Merapi pada periode tersebut dilaporkan mendung. Angin bertiup lemah ke arah timur dengan suhu udara berkisar 16,3-18,5 derajat Celsius.
Kelembaban udara tercatat sangat tinggi, yakni antara 98,9 hingga 100 persen. Sementara tekanan udara berada pada kisaran 874,8-918,3 milimeter merkuri.
Hingga Rabu pagi, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga.
Badan Geologi menyebut potensi bahaya Gunung Merapi saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sejumlah sektor.
Di sektor selatan-barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer. Sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng memiliki potensi bahaya hingga maksimal tujuh kilometer.
Pada sektor tenggara, daerah yang perlu diwaspadai meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol sejauh lima kilometer.
Apabila terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Data pemantauan juga menunjukkan suplai magma masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam kawasan daerah potensi bahaya.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya. Warga yang tinggal di sekitar Gunung Merapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap potensi lahar dan awan panas guguran saat hujan terjadi di kawasan puncak dan sekitarnya.
Selain itu, masyarakat diminta mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat hujan abu vulkanik apabila terjadi erupsi.
Badan Geologi memastikan tingkat aktivitas Gunung Merapi akan terus dievaluasi. Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, status Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali.
Gunung Merapi yang berada di wilayah administrasi Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga. (nik)
Editor : Niko auglandy