Fenomena Langka Vulkanologi Merapi: Muncul Dua Kubah Lava, Warga KRB III Kemalang Klaten Diimbau Tetap Siaga

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 15:44 WIB
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Agus Budi Santoso. (Angga Purenda/Radar Solo)
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Agus Budi Santoso. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Gunung Merapi hingga saat ini masih berada pada status Level III (Siaga) dengan pola erupsi efusif yang intensif.

Durasi erupsi tercatat sangat panjang, berlangsung sejak 4 Januari 2021 atau lebih dari 5 tahun.

Meski begitu, masyarakat di kawasan lereng Merapi, khususnya di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, diimbau untuk tidak lengah dan terus meningkatkan kapasitas mitigasi bencana.

Baca Juga: Polres Boyolali Salurkan 95 Ribu Liter Air Bersih untuk Warga Juwangi yang Terdampak Kekeringan

Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Agus Budi Santoso dalam Sosialisasi Kesiapsiagaan Penanggulangan Potensi Ancaman Bencana Erupsi Merapi, Gempa Bumi, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pendapa Pemkab Klaten, Rabu (9/9/2026)

Agus menjelaskan bahwa aktivitas Merapi saat ini diwarnai kejadian erupsi yang sangat intensif dan dapat mencapai ratusan kali per hari.

Meski sering kali tidak terlihat secara kasat mata.

Karakteristik tersebut dinilai konstan, tanpa menunjukkan tanda-tanda peningkatan signifikan maupun penurunan aktivitas yang menuju ke arah akhir erupsi.

"Dari data pemantauan seismik, suplai magma dari dalam masih sangat intensif dengan kejadian gempa vulkanik mencapai lebih dari 50 kali per hari. Jauh di atas kondisi normal yang biasanya kurang dari 5 kali per hari. Karena itu, kami belum bisa memprediksi kapan erupsi ini akan berhenti," ujar Agus.

Selain durasinya yang panjang, erupsi periode ini membawa fenomena unik yang jarang terjadi dalam sejarah vulkanologi Merapi selama dua abad terakhir.

Baca Juga: Realisasikan Program Dalan Alus-Padang, Bupati Klaten Pastikan Penambahan PJU di APBD Perubahan

 Yakni keberadaan dua kubah lava sekaligus, kubah lava tengah dan kubah lava barat daya. Jalur magma terbagi menjadi dua, yang memicu potensi bahaya tersendiri.

Tak hanya itu, BPPTKG juga mencatat adanya pemekaran (deformasi) pada area puncak Gunung Merapi.

Yakni membengkak ke arah barat hingga mencapai hampir 20 meter sejak sebelum erupsi 2021.

Berdasarkan pemodelan analisis bahaya terbaru, jika terjadi keruntuhan masif pada kubah lava barat daya, awan panas berpotensi meluncur hingga 7 Km mengarah Kali Krasak (Magelang).

Deposit materi vulkanik di sektor barat daya saat ini menumpuk hingga 30 juta meter kubik.

Baca Juga: Cegah Tanah Longsor, Kodim Klaten Hijaukan Lereng Merapi Lewat Penanaman 1.000 Bibit Pohon

Saat hujan deras, aliran lahar berpotensi mengalir di sepanjang sungai hingga jarak maksimal 14 km (Kali Krasak). Namun diprediksi masih berada di dalam alur sungai dan tidak melimpas ke pemukiman.

Sedangkan jika terjadi keruntuhan masih pada kubah lava tengah, awan panas berpotensi meluncur hingga 5 Km ke arah Kali Gendol

Untuk mengantisipasi skenario terburuk, seperti keruntuhan kubah lava yang pernah memicu bencana besar pada 1994, BPPTKG telah memasang teknologi pemantauan canggih berbasis radar, GB-InSAR (Ground-Based Interferometric Synthetic Aperture Radar) di stasiun Turgo dan BAbadan.

"Alat ini dapat mendeteksi perubahan morfologi puncak dan kubah lava dalam skala 3D dengan interval waktu per menit (real-time). Jadi peringatan dini bisa direspons jauh lebih cepat," terangnya.

Terkait posisi warga lereng Merapi, khususnya masyarakat Kecamatan Kemalang yang berada di KRB III, Agus menilai sebagian besar warga sudah terbiasa dengan karakteristik Merapi dan saat ini berada di jarak aman dari ancaman awan panas.

Baca Juga: Jadwal Moto3 Hari Ini: Jam Berapa Veda Ega Pratama Balapan di Moto3 San Marino 2026?

Meski demikian, mengingat Merapi masih menyimpan potensi erupsi eksplosif skala kecil, upaya mitigasi tidak boleh mengendur. Beberapa poin penting yang ditekankan BPPTKG meliputi pelatihan kesiapsiagaan secara rutin dan berkelanjutan agar masyarakat responsif terhadap sistem peringatan dini.

Di sisi lain, BPPTKG juga mengimbau pemerintah daerah untuk memperketat tata ruang, izin pemukiman, serta aktivitas penambangan di KRB III.

Termasuk mengajak penanggulangan bencana dilakukan secara kolaboratif lintas sektor. Melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas warga, dunia usaha dan media massa.

"Masyarakat kita harapkan tetap bersabar memberi waktu kepada Merapi yang sedang memperbarui sumber dayanya. Kelak manfaatnya juga akan kembali kepada warga. Namun dari sisi mitigasi, kesiapsiagaan adalah hal yang mutlak," ujar Agus. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
kemalang klaten vulkanologi erupsi merapi kubah lava BPPTKG