RADARSOLO.COM-Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Troketon yang berlokasi di Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, kembali mengalami kebakaran hebat pada Rabu (16/9/2026) malam.
Insiden tersebut tercatat sebagai peristiwa kebakaran yang ketiga kalinya terjadi di TPA milik Pemkab Klaten tersebut sepanjang tahun 2026.
Laporan adanya kobaran api pertama kali diterima pihak pemadam kebakaran sekira Pukul 21.55 dari relawan Redkar.
Api dengan cepat membesar dan membakar tumpukan sampah di area landfill 2 dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai sekira 3.100 meter persegi (0,31 hektar) dari total luas TPA sebesar 7 hektar.
Proses pemadaman di awal kejadian sempat mengalami kendala teknis yang menghambat response time petugas.
Kepala Satpol PP dan Damkar Klaten Srihadi mengungkapkan, armada damkar yang bergegas ke lokasi sempat terhalang oleh alat berat di titik masuk.
"Saat laporan diterima, damkar langsung bergerak. Namun sempat terhalang karena lokasi ditutup alat berat," jelas Srihadi, saat dikonfirmasi radarsolo.com pada Kamis (16/9/2026).
Setelah berjibaku selama kurang lebih 8 jam dari pukul 22.00, proses pemadaman api utama dinyatakan selesai sekitar pukul 06.12 Kamis (17/9/2026) pagi.
Mengenai pemicu timbulnya api, Srihadi menjelaskan bahwa cuaca terik yang ekstrem pada siang hari diduga menjadi pemicu utama timbulnya letupan gas metan di dalam tumpukan sampah.
Baca Juga: Bawaslu Wonogiri Terima Surat Kaleng Dugaan Politik Uang Pilkades
"Posisi titik api muncul di tengah landfill 2. Kemungkinan karena cuaca siang sangat panas, terjadi letupan gas metan yang ada di tumpukan sampah sehingga api cepat membesar. Mudah-mudahan tidak ada unsur kesengajaan," tutur Srihadi.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini.
Namun, untuk mencegah timbulnya titik api baru (hotspot), pihak Damkar Klaten meminta pengelola TPA dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Klaten meningkatkan pengawasan pascakebakaran.
"Antisipasinya, kami meminta pengelola TPA maupun DLH untuk selalu mengontrol dan melakukan pengawasan ketat pascakebakaran guna mencegah munculnya kembali titik api baru dari endapan gas metan," tegas Srihadi.
Baca Juga: Nanon Balik ke Futsal, Netizen Auto Ingat Momen Kocak STARLYMPICS Tahun Lalu
Sementara itu, Kabid Damkar Satpol PP dan Damkar Klaten Sumino menyebut, keterlambatan penanganan di menit-minit awal akibat akses terhalang serta hembusan angin kencang membuat api cepat merambat.
"Penanganan kebakaran di awal sangat menentukan. Karena di awal terhalang akses dan angin di atas cukup kencang, perambatan api jadi lebih cepat. Namun, tim langsung bergerak cepat memutus jalur perambatan ke arah timur dan selatan sehingga area landfill 1 dan landfill 3 serta permukiman warga bisa diselamatkan dari kobaran api," beber Sumino.
Selain kendala akses masuk, petugas di lapangan juga harus berjuang menyuplai air karena titik sumber air yang cukup jauh dari tempat kejadian kebakaran.
Untuk memadamkan kobaran api yang membakar tumpukan sampah plastik dan limbah padat tersebut, pengerahan armada dan personel gabungan dilakukan secara masif dari Rabu malam hingga Kamis (17/9/2026) pagi.
Total armada yang dikerahkan mencapai enam unit, terdiri dari tiga unit pemadam Satpol PP dan Damkar Klaten, dua unit mobil tangki BPBD Klaten serta satu unit tangki dari Kencana Juwiring.
Penanganan kebakaran menghabiskan estimasi air hingga 30.000 liter yang digabungkan dengan pengambilan air sungai terdekat.
"Sekitar 50 personel gabungan diturunkan di lokasi. Ada personel Damkar Klaten, BPBD, serta relawan dari berbagai unsur seperti REDKAR, SAR, PMI, TNI dan Polri," tambah Sumino. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com