RADARSOLO.COM - Sebanyak 160 kepala keluarga (KK) atau sekira 500 jiwa di Dusun Tugurejo, Desa Wiro, Kecamatan Bayat, Klaten, mengalami krisis air bersih selama 1,5 bulan terakhir.
Penurunan drastis debit air pada tiga sumur Pamsimas yang selama ini menjadi penopang utama warga disinyalir menjadi pemicu utamanya.
Kondisi tersebut diperparah oleh maraknya pembuatan sumur bor untuk kebutuhan irigasi pertanian di kawasan sekitar yang berdampak pada menyusutnya cadangan air tanah.
Baca Juga: Kejar Target 3.000 Pelanggan Baru, PDAM Sragen Pangkas Biaya Pasang Jadi Rp850 Ribu
Bahkan, sumur gali warga yang biasanya tetap bertahan saat kemarau panjang, kini dalam kondisi kering kerontang.
Ketua RW 02 Dusun Tugurejo Sumadi menjelaskan, krisis air tahun ini terasa jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Wilayah yang membawahi tiga RT ini terpaksa memberlakukan sistem penggiliran distribusi air Pamsimas guna menyikapi menurunnya debit air pasokan.
“Satu-satunya sumber Pamsimas yang tersisa debitnya sudah sangat berkurang. Pembagian air dibuat bergilir setiap tiga hari sekali untuk empat blok wilayah. Mulai dari blok selatan, utara, tengah hingga timur,” ujar Sumadi, Jumat (18/9/2026).
Akibat keterbatasan pasokan air tersebut, warga harus ekstra hemat dan memprioritaskan pemanfaatan air hanya untuk kebutuhan penting seperti konsumsi dan mandi.
Sementara untuk mencuci pakaian, tak sedikit warga yang terpaksa menempuh perjalanan sekira 1-2 Km menuju Sendang Ngrueng yang debit airnya masih bertahan.
Baca Juga: Diduga Dipicu Cekcok Rumah Tangga, Pria di Banyudono Boyolali Nehat Menceburkan Diri ke Sumur
Guna menampung bantuan air bersih dari berbagai pihak, warga Dusun Tugurejo secara swadaya mengumpulkan iuran untuk membangun tujuh bak penampungan sementara. Berbahan terpal di kawasan lereng perbukitan tersebut.
Sejauh ini, pasokan air bersih disuplai melalui dropping dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), organisasi masyarakat hingga sektor swasta dan rumah sakit.
“Bantuan dropping air bersih terus mengalir. Namun karena bak terpal ini sifatnya sementara dan kapasitasnya terbatas, kami sangat berharap ada bantuan tandon penampungan permanen dari pemerintah agar distribusi air lebih mudah,” jelas Sumadi.
Sumadi memperkirakan krisis air bersih di kawasannya berpotensi berlangsung hingga memasuki musim hujan pada Desember mendatang.
Sebagai solusi jangka panjang, pihak desa telah berkoordinasi dengan Pemkab Klaten dan lembaga sosial untuk merencanakan penambahan titik sumur bor baru di wilayah utara dan selatan dusun.
Baca Juga: Diikuti 170 Masjid, Sragen MasjidPreneur Fest 2026 Jadi Lokomotif Kemandirian Ekonomi Jamaah
“Kemarin sudah ada rencana penambahan titik sumur bor baru dari Pemkab Klaten dan yayasan dari Yogyakarta. Kami sangat berharap kolaborasi ini segera terealisasi agar kebutuhan air bersih warga Tugurejo saat kemarau bisa teratasi secara permanen,” harapnya.
Juminten, warga setempat membenarkan sulitnya mengakses air bersih dalam beberapa pekan terakhir.
Ia terpaksa mengangkut air dari bak penampungan sementara menggunakan ember atau galon di dekat rumahnya.
“Sumbernya habis, tinggal sedikit dibagi banyak orang. Alirannya dibuat bergilir tiga hari sekali. Air dari bantuan ini saya gunakan terutama untuk minum dan mandi,” tutur Juminten. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com