Festival Mbok Sri Dimeriahkan Tradisi Wiwitan, Petani Delanggu Klaten Suarakan Raperda Hilirisasi Rojolele

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 14:49 WIB
Kirab budaya tani dan tradisi upacara wiwitan dengan menyusuri petak persawahan warga dengan mengelilingi sejauh 1 Km di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (27/9/2026). (M. Ihsan/Radar Solo)
Kirab budaya tani dan tradisi upacara wiwitan dengan menyusuri petak persawahan warga dengan mengelilingi sejauh 1 Km di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (27/9/2026). (M. Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Puncak Festival Mbok Sri (FMS) 2026 kembali digelar meriah di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (27/9/2026).

Kali ini sudah memasuki penyelenggaraan untuk edisi ke sembilan.

Perayaan budaya tahunan yang bertepatan dengan momentum Hari Tani Nasional tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten Titin Windiyarsih serta Camat Delanggu Yoenanto Sinung Nugroho beserta jajaran lainnya.

​Rangkaian kegiatan puncak festival diawali dengan kirab budaya tani dan tradisi upacara wiwitan dengan menyusuri petak persawahan warga dengan mengelilingi sejauh 1 Km.

Baca Juga: Gagal Raih Medali Asian Games, Basral Graito Malah Bercanda soal Bikin Kos-kosan

Dalam kirab tersebut, warga mengarak tiga gunungan utama. Yakni gunungan padi Rojolele, gunungan hasil bumi dan gunungan nasi wiwit.

​Pendiri Sanggar Rojolele sekaligus Direktur FMS Eksan Hartanto menjelaskan bahwa festival yang telah dirintis sejak 2017 tersebut mengusung tema “Seni Bertahan Petani: Tatag Nyupaya, Jejeg Urip”. Bermakna teguh dalam berupaya, tegak dalam hidup.

​"Artinya, petani kami hari ini di tengah minimnya kebijakan untuk sektor agraria di Delanggu, masih tetap bertahan melakukan budidaya pertanian. Mereka terus bergerak melalui ruang komunitas, pasar desa, wanita tani hingga merintis Koperasi Tani Rojolele," ujar Eksan ditemui di lokasi acara.

Eksan membeberkan, dalam kirab tersebut terdapat ritus simbolik keberadaan sosok Dewi Sri yang dihadirkan dalam FMS tahun ini.

Dikemas dalam prosesi pingitan selama tiga hari sejak Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: Honda CB250SS Concept Resmi Diperkenalkan, Desain Scrambler dan Mesin DOHC Jadi Daya Tarik

Dimulai dari ritual memasukkan Dewi Sri ke dalam Sentong di Sanggar Rojolele.

Dilanjutkan prosesi Mapak Mbok Sri pada hari kedua. Hingga puncak kirab juga ikut mengelilingi area persawahan pada hari ketiga.

​"Puncaknya hari Minggu ini kita mengajak Dewi Sri berkeliling ke sawah tempat upacara wiwitan berlangsung. Lalu kembali ke lokasi untuk istirahat di Sentong. Kemudian Dewi Sri hadir kembali di panggung mengucapkan salam perpisahan untuk berjumpa lagi di bulan September tahun depan," paparnya.

​Usai ritual wiwitan, masyarakat dan pengunjung menggelar kembul bujono atau makan bersama dengan membagikan sekira 500 pincuk nasi wiwit khas pedesaan.

Bupati Klateng Hamenang Wajar Ismoyo (pakai topi) hadir dalam tradisi Wiwitan. (M.IHSAN/RADAR SOLO)
Bupati Klateng Hamenang Wajar Ismoyo (pakai topi) hadir dalam tradisi Wiwitan. (M.IHSAN/RADAR SOLO)

Terdiri dari 300 pincuk dari gunungan dan 200 pincuk yang dibagikan di area panggung utama.

Bupati Hamenang pun juga ikut dalam tradisi wiwitan dengan makan bersama masyarakat di tengah area persawahan.

Acara kemudian disemarakkan dengan panggung hiburan rakyat seperti sendratari, seni reog hingga pertunjukan seni jatilan dari Kemalang.

​Lebih jauh, Eksan menegaskan bahwa FMS tidak sekadar perayaan tradisi atau gelar budaya.

Baca Juga: Satu Dekade, SMA Muhammadiyah PK Kottabarat Perkuat Budaya Berkarya

Melainkan corong efektif untuk menyuarakan kompleksitas isu-isu pertanian lokal maupun nasional. 

Salah satu isu paling mendesak yang diusung tahun ini adalah dorongan regulasi hilirisasi padi varietas Rojolele Srinuk dan Srinar.

​"Isu mendesak yang coba kami angkat adalah mendorong Pemkab Klaten melahirkan kebijakan melindungi upaya hilirisasi Rojolele," terang Eksan. 

"Di pasar hari ini, Rojolele belum mendapat perlindungan regulasi pasca dilepasnya SK Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) sekira 5-6 tahun lalu," imbuhnya.

​Menurutnya, jaringan petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Padi Rojolele dan Agro Techno Park Kabupaten Klaten menilai beras Rojolele seharusnya dikategorikan sebagai beras khusus berbasis Indikasi Geografis (IG).

Bukan beras umum dengan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) biasa. 

Pasalnya, varietas tersebut merupakan turunan esensial dari padi lokal Rojolele yang masa tanam sebelumnya bisa berusia hingga 6 bulan dan spesifik ditanam di bumi Klaten.

Baca Juga: Persijap Jepara Tambah Tujuh Pemain Baru Jelang Penutupan Bursa Transfer Super League

​"Kami berharap setelah festival ini, stakeholder terkait bersama Pemkab dan DPRD Kabupaten Klaten berkenan duduk bersama para petani untuk membahas Rencana Peraturan Daerah (Raperda) Hilirisasi Rojolele Srinuk dan Srinar. Harapannya agar ada tumpuan hukum yang jelas bagi petani produsen," bebernya.

​Sementara itu, dalam menatap pelaksanaan tahun depan yang menandai satu dekade FMS, Eksan berharap festival ini terus menjadi medium lintas disiplin ilmu dan seni untuk mengawal kedaulatan serta keadilan bagi para petani.

Festival Mbok Sri 2026 yang diinisiasi Sanggar Rojolele terus memantik komitmen Pemkab Klaten dalam menjaga sektor pertanian.

Bupati Klaten Hamenang menegaskan pentingnya kolaborasi dan perlindungan lahan agar generasi muda mau kembali mengolah sawah.

​Lebih lanjut, Hamenang menyampaikan, pemkab berkomitmen mempertahankan lahan pertanian lewat penetapan kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). 

Langkah itu dilakukan agar mayoritas sawah di Klaten tetap produktif dan terlindungi secara hukum.

​"Kebijakan pertanian di Kabupaten Klaten harus dipertahankan karena menjadi salah satu pilar utama yang wajib kita jaga bersama," tegas Hamenang saat memberikan sambutan.

​Ia mengapresiasi konsistensi Sanggar Rojolele yang terus mengedukasi masyarakat dan mempromosikan sejarah kejayaan beras Rojolele.

Melalui ajang seni dan budaya seperti Festival Mbok Sri, keterikatan masyarakat dengan alam diharapkan terus terjaga.

​"Harapan kita, generasi muda mau kembali ke sawah untuk mempertahankan lahan pertanian kita. Mari kita kembalikan kejayaan pertanian Klaten," tuturnya.

​Selain perlindungan lahan, Hamenang menyoroti tantangan krisis air akibat perubahan iklim yang mulai melanda berbagai wilayah.

Pemkab mendorong pengelolaan dan penjagaan sumber air daerah agar pasokan irigasi bagi para petani tetap terjamin.

​"Mari kita jaga potensi sumber air yang ada agar terus mengalir. Semoga kolaborasi ini mampu meningkatkan hasil panen dan kesejahteraan seluruh petani di Klaten," pungkas Hamenang. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
festival mbok sri 2026 delanggu klaten raperda hilirisasi rojolele Sanggar Rojolele Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo