Festival Desa Wisata Desamorfosis 2026: Gali Potensi Budaya dan Ekonomi Lokal Klaten

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 15:05 WIB

 

Gelaran Festival Desa Wisata Desamorfosis di Taman Barepan, Kecamatan Cawas, Jumat–Sabtu (25–26/9/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Gelaran Festival Desa Wisata Desamorfosis di Taman Barepan, Kecamatan Cawas, Jumat–Sabtu (25–26/9/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Pengembangan sektor pariwisata berbasis kemasyarakatan di Kabupaten Klaten terus dipacu.

Fokus perhatian kini menyasar desa wisata kategori rintisan agar mampu menggali potensi lokal dan lekas naik kelas menjadi destinasi yang mandiri serta berkelanjutan.

Langkah percepatan tersebut mengemuka dalam gelaran Festival Desa Wisata Desamorfosis di Taman Barepan, Kecamatan Cawas, Jumat–Sabtu (25–26/9/2026).

Baca Juga: Pesta Miras di Taman Kampus, Tujuh Pemuda Diciduk Tim Sparta

Ajang tahunan yang diinisiasi Pemkab Klaten melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) bersama Forum Komunikasi Desa Wisata dan Pokdarwis Kabupaten Klaten tersebut pada tahun ini sengaja memberi porsi lebih besar bagi desa wisata rintisan.

Dari total 40 desa wisata di Kabupaten Klaten yang telah resmi memegang Surat Keputusan (SK) Bupati, sebanyak 15 desa di antaranya masih berstatus rintisan.

Jumlah tersebut diproyeksikan bakal terus meningkat seiring program Pemprov Jawa Tengah yang menargetkan lahirnya 1.000 desa wisata pada 2027.

"Untuk mendukung program provinsi tersebut, di Klaten kita targetkan memunculkan 40 desa wisata baru lagi. Sehingga ke depan totalnya bisa mencapai 80 desa wisata," ujar Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata dan Pokdarwis Kabupaten Klaten Hartaya, Jumat (25/9/2026)

Guna mencapai target tersebut, forum aktif memetakan serta mendampingi pengembangan potensi di tiap wilayah.

Baca Juga: Honda GB350C Meluncur dengan Mesin 348 Cc, Torsi 29 Nm dan Tangki 15 Liter, Harga Rp81 Jutaan

Desa wisata yang sudah maju didorong untuk mendampingi dan membagi kiat sukses kepada desa wisata rintisan.

Melalui pendampingan berkelanjutan, penguatan kelembagaan, serta pelibatan aktif warga lokal, desa wisata rintisan di Klaten diharapkan makin percaya diri mengelola potensinya guna memutar roda perekonomian.

Hartaya pun menekankan, konsep desa wisata tidak selalu identik dengan wahana air atau panorama alam saja.

Tetapi dari keragaman potensi lokal, mulai dari kerajinan, UMKM, situs sejarah hingga ketangguhan bencana bisa memiliki nilai jual tinggi jika dikemas secara menarik.

Baca Juga: Festival Mbok Sri Dimeriahkan Tradisi Wiwitan, Petani Delanggu Klaten Suarakan Raperda Hilirisasi Rojolele

"Wisata itu tidak harus air, apapun bisa. Ada yang menonjolkan sektor pertanian, UMKM kreatif seperti kerajinan kipas di Keprabon (Kecamatan Polanharjo) hingga seni wayang di Sidowarno (Kecamatan Wonosari). Bahkan konsep desa wisata tanggap bencana maupun heritage sangat potensial," jelasnya.

Ia mencontohkan Desa Kranggan di Kecamatan Polanharjo. Wilayah tersebut menyimpan potensi heritage kuat berupa jejak sejarah pandai besi seperti pembuatan keris serta deretan rumah kuno peninggalan era Pangeran Diponegoro yang siap dikembangkan menjadi paket wisata sejarah.

Pendekatan serupa juga diterapkan di Desa Barepan, Cawas yang tahun ini menjadi tuan rumah dalam Festival Desa Wisata Desamorfosis.

Meski belum berstatus desa wisata, Barepan terbukti kaya akan tradisi budaya.

Baca Juga: Gagal Raih Medali Asian Games, Basral Graito Malah Bercanda soal Bikin Kos-kosan

Desa tersebut memiliki kelompok seni gejog lesung serta kuliner khas legondo yang diproduksi secara berkala saat menyambut 1 Muharram di Petilasan Sunan Kalijaga, Dusun Sepi.

“Di sini ada 12 RW, setiap RW memiliki kelompok gejog lesung. Ditambah setiap menyambut 1 Muharram, di petilasan Sunan Kalijaga di Dusun Sepi selalu ramai bersama kuliner khas legondo," ujar pegiat seni Desa Barepan, Kanti Handayani. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
festival desa wisata desamorfosis 2026 desa wisata rintasan potensi budaya klaten ekonomi lokal