Melihat Geliat Warung KWT Rojolele Delanggu Klaten: Buka 3 Jam, Perputaran Uang Tembus Jutaan Rupiah

Angga Purenda • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 18:02 WIB
Aktivitas berjualan aneka olahan pangan di Warung Koperasi Wanita Tani (KWT) Rojolele, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (27/9/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Aktivitas berjualan aneka olahan pangan di Warung Koperasi Wanita Tani (KWT) Rojolele, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten, Minggu (27/9/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Lahan ratusan meter persegi yang sempat puluhan tahun mangkrak di Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Klaten. Kini berubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi warga.

Berkat inisiasi Sanggar Rojolele Delanggu dan kerja keras puluhan ibu-ibu, kawasan tersebut disulap menjadi kebun usaha. Sekaligus Warung Koperasi Wanita Tani (KWT) Rojolele.

Berada di area kebun yang dikelilingi hamparan sawah hijau, warung tersebut menjadi wadah pemberdayaan bagi sekitar 40 ibu-ibu KWT.

Baca Juga: Tahir Solo Museum Komitmen Promosikan Karya Seni Lokal

Meski hanya beroperasi setiap hari Minggu pagi mulai pukul 06.00-09.00, perputaran uang di Warung KWT Rojolele tersebut bisa mencapai Rp 3 juta-Rp 4 juta hanya dalam tempo tiga jam.

Pendiri sekaligus Ketua Sanggar Rojolele Delanggu Eksan Hartanto menjelaskan bahwa aktivitas pengolahan lahan mangkrak seluas total 1.400 meter persegi yang terdiri dari 900 meter persegi kebun riset dan 500 meter kebun KWT tersebut telah berjalan selama kurun tiga bulan terakhir.

Eksan menyampaikan bahwa program tersebut sengaja didesain untuk mengajak kaum perempuan di desa agar dapat berpartisipasi aktif menopang ketahanan pangan dan ekonomi keluarga.

"Tujuan pertama adalah mengajak generasi maupun gender perempuan tani di desa untuk turut membantu aktivitas budidaya pertanian suaminya. Kita bekali dengan ilmu berkebun permakultur," ujar Eksan kepada radarsolo.com saat ditemui di lokasi pada Minggu (27/9/2026).

Pendampingan yang diberikan Sanggar Rojolele meliputi pendidikan penyemaian benih hingga pengolahan lahan. Termasuk menghilirisasi hasil panen dengan membukakan ruang pasar melalui Warung KWT Rojolele tersebut.

Berbagai komoditas ditanam pada lahan tersebut. Seperti sawi (pakcoy), bayam hijau, bayam ungu, kangkung, sorgum, tanaman rimpang hingga buah-buahan.

Baca Juga: Polemik Hak Cipta Patung Kayu di Tahir Solo Museum: Kampus Akui Caption Keliru tapi Bantah Klaim Karya Orang

Keberadaan kebun dan warung yang asri tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Khususnya rombongan pelari kalcer maupun warga yang menikmati jalan pagi.

Salah satu menu unik yang paling diminati pengunjung adalah Soren alias Sorgum Aren yakni olahan biji sorgum mirip ketan yang disiram cairan gula aren manis gurih. Menu istimewa tersebut bahkan kerap ludes diserbu pembeli dalam kurun waktu kurang dari satu jam.

Selain Soren, hidangan tradisional lainnya yang jadi primadona yakni Nasi Wiwit dan Soto juga disajikan secara regular. Sebagai upaya melestarikan olahan pangan lokal khas Delanggu yang bahannya dipanen langsung dari lahan yang dikembangkan oleh ibu-ibu KWT Rojolele tersebut.

Anggota KWT Rojolele, Nur Hayati, 40, menceritakan bahwa warung tersebut menghadirkan beragam variasi kuliner tradisional bernutrisi dan produk olahan lokal yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Baca Juga: Sumur Bor Selesai Dibangun, Giliran Petani di Baki Sukoharjo Terkendala Modal Tanam

"Untuk makanan berat ada nasi soto Rp 5.000, lontong sayur Rp 10.000, bubur letok Rp 3.000, nasi gudeg telur utuh Rp 10.000. Kemudian gendar pecel Rp 5.000 serta bubur sorgum Rp 5.000. Yang paling dicari dan cepat habis biasanya gendar pecel sama bubur sorgum," ungkap Nur.

Ibu-ibu KWT juga memproduksi beraneka ragam keripik berbahan dasar hasil kebun. Seperti keripik gedebog pisang, keripik daun singkong, keripik bayam, hingga peyek yang dibanderol serba Rp 10.000 per bungkus.

Di samping olahan pangan, Warung KWT Rojolele turut menjual beras asli Delanggu yang tersohor akan cita rasanya yang unggul. Yakni Beras Rojolele asli hasil tanam di tanah Delanggu dengan harga Rp 37.000 per kemasan 2 Kg. Termasuk produk olahan Karak Beras Rojolele matang seharga Rp 7.000 per kemasan.

Nur mengaku dampak ekonomi dari dibukanya warung tersebut sangat terasa bagi keluarganya.

"Sangat membantu meningkatkan ekonomi keluarga. Kalau hari Minggu lagi ramai, alhamdulillah bisa dapat omzet untuk saya sendiri dari berjualan di Warung KWT Rojolele ini hingga Rp 300.000 dalam beberapa jam saja. Pembelinya tak hanya dari warga sekitar, ada juga yang datang jauh-jauh dari Solo hingga Jogja," tuturnya.(ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
warung kwt rojolele delanggu klaten pertanian kuliner perputaran uang