Jenang dibuat dari beras, ketan, dan gula jawa. Masyarakat Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo menjadikan jenang sebagai produk utama penghasil rupiah. Mereka bahkan memproduksi sendiri jenang dengan cita rasa khas berbeda. Bahan bakunya beras, beras ketan, gula merah, dan santan kelapa. Jenang ini mampu bertahan tiga sampai lima hari tanpa disimpan di lemari pendingin.
”Desa Kenep dijuluki desa wisata kreatif. Hampir setiap rumah, memiliki usaha industri rumah tangga untuk menopang ekonomi keluarga. Salah satunya perajin jenang yang terletak di kampung Kedunggudel,” kata Camat Sukoharjo Kota, Havid Danang PW.
Bahan baku utama pembuat jenang ini adalah beras ketan dan gula merah. Lalu, dimasak dalam sebuah kuali besar. Setiap kuali mampu menampung hingga 70 kilogram.
”Jenang Desa Kenep masih diolah secara tradisional. Jenang diaduk dalam kuali besar dengan tenaga manusia,” ungkapnya.
Jenang Kenep, warna dan bentuknya sama persis dengan jenang Kudus yang sering dijumpai. Soal rasa, jenang Kenep juga tak kalah lezat. Hanya saja, kemasan jenangnya masih sederhana karena dicetak dalam wadah kayu dilapisi dengan daun pisang. Kemudian dibungkus plastik bening, tanpa label dan packaging khusus.
”Namun cita rasanya masih orisinal karena pembungkus daun pisangnya itu,” terangnya.
Sampai saat ini, di Kelurahan Kenep ada 17 perajin jenang. Banyak di antaranya sudah menjalankan usahanya turun temurun sampai tiga generasi. Saat ini, sejumlah usaha jenang Kenep dijalankan oleh generasi ketiga.
”Pemasaran sampai ke Wonogiri, Sragen, Klaten, Sukoharjo dan Gunung Kidul,” katanya.
Salah satu kendala saat pandemi, menurut Havid adalah tidak ada hajatan. Pasalnya, jenang kenep ini sering dipesan oleh orang punya hajatan, sebagai hidangan dan ater-ater (bingkisan) saat hajatan.
”Pandemi ini agak sepi, karena tidak ada hajatan,” imbuhnya.
Widya Setyo Rahayu, 37 pemilik usaha jenang dodol Mbah Wito mengaku setiap produk jenang dari Kenep bisa beda rasanya. Meskipun, bahan bakunya sama. Karena, masing-masing bahan baku yang didapat berbeda pula rasanya.
”Misalnya gula jawa dari Pacitan dan gula jawa dari daerah Purworejo beda cita rasanya,” beber warga Kedunggudel RT 1 Rw 2 Kelurahan Kenep, Kecamatan Sukoharjo.
Dia menceritakan, Mbah Wito yang juga kakeknya sudah memulai usahanya sejak 1970. Hanya saja, anak-anak mbah Wito tidak ada yang meneruskan. (kwl/adi/dam) Editor : Damianus Bram