“Sudah punya pelanggan tetap. Pesan lalu COD (cash on delivery) di mana begitu. Kalau sehari, ada satu atau dua pelanggan yang beli,” jelasnya.
Dara periang ini mengaku belum begitu mahir membikin gempol pleret. Sebab butuh ketekunan, kesabaran, dan perasaan. Tidak asal dikepal agar gempolnya padat.
“Sudah bisa bikin gempol, tapi belum sempurna. Hasilnya masih keras dan ambyar, karena harus pakai feeling," tutur dia.
Sejak lulus SMA 2018, Fani memilih tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Tampaknya dia bakal meneruskan usaha orang tuanya berjualan gempol pleret. Meskipun baru pada tahap menjualkan.
"Pelanggan gempol pleret ibu kan ada yang ambil di rumah, ada pula yang diantar. Nah, saya yang biasa mengantar. Saya juga punya pelanggan sendiri," ucapnya.
Surani, sang ibu, mengaku seluruh anaknya sudah bisa membuat gempol pleret, tetapi kurang sabar. Ketika pesanan membanjir, mereka ikut turun tangan. “Jadi semacam pabrik. Lha semua bikin gempol di rumah,” kelakarnya. (kwl/wa/ria) Editor : Syahaamah Fikria