Ada banyak pilihan untuk menikmati kuliner khas dari Kota Bersinar tersebut. Salah satunya di warung ayam panggang Mbah Dinem di Jalan Andalas, Kecamatan Klaten Tengah. Warung ini sering menjadi jujukan pengunjung dari luar kota.
Setiap harinya warung ayam panggang Mbah Dinem menyiapkan hingga 70 ekor ayam Jawa super. Diawali dengan memanggang hingga setengah matang di rumah produksi. Hal itu agar tekstur daging ayam bisa empuk sebelum akhirnya dibawa ke warung.
Menariknya, untuk mendapatkan tekstur daging ayam Jawa super tidak melalui proses direbus dan dikukus. Pun juga digoreng dengan minyak maupun dibakar terlebih dahulu. Tetapi daging ayam yang telah dibersihkan itu diolah dengan proses pemanggangan sepenuhnya.
Saat bersamaan pula disiapkan 18 bumbu rempah-rempah. Di antaranya lengkuas, jahe hingga kemiri. Bumbu yang diolah itu bertekstur sedikit kental dan berwarna kecokelatan dengan dominasi rasa manis. Ada pula yang disiapkan bumbu serupa tetapi terdapat rasa pedas, sehingga konsumen dapat memilih sesuai selera.
Saat ada konsumen yang pesan, langsung dilakukan proses pemanggangan dengan menggunakan tungku berupa gerabah tanah liat. Sedangkan perapian tidak menggunakan arang karena akan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai matang. Meski begitu, alat pemanggangan telah disiapkan di dalam gerabah serta ditutup selama dimasak.
Dalam proses memasak, ayam Jawa super yang sudah setengah matang dimasukan dalam bumbu hingga terendam. Kemudian dipanggang menggunakan gerabah dengan waktu yang dibutuhkan sekira 15 menit lamanya. Proses pemanggangan dilakukan dalam bentuk utuh maupun potongan sesuai pesanan konsumen.
Sementara itu, untuk penyajiannya selain terdapat ayam panggang juga nasi, lalapan, dan sambal bawang yang telah digoreng sebelumnya. Ada pun lalapan berupa daun papaya dan mentimun. Tepat di atas lalapan tersebut ditambahi bumbu ayam panggang yang sudah turun temurun tersebut.
”Kami tidak menggunakan penyedap rasa. Soalnya 18 bumbu rempah-rempah ini sudah begitu kuat. Proses pemanggangan secara tradisional pun tetap kami pertahankan,” ucap Nurul Khofifah dari perwakilan Ayam Panggang Mbah Dinem saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, kemarin (31/3/2023).
Saat disantap, ayam panggang khas Klaten itu tidak alot meski menggunakan ayam Jawa super. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari proses pemanggangan sebelumnya. Cocok bagi menyukai cita rasa manis yang pedas bisa dipadupadankan dengan pedas.
”Penikmati ayam panggang kami justru kebanyak dari luar kota seperti Gresik, Magelang hingga Jakarta yang kebetulan melintasi Klaten. Ada beberapa tokoh yang sering beli ayam panggang di tempat kami seperti ibu bupati (Sri Mulyani, Red) dan Almarhum Pak Tjahjo Kumolo saat singgah di Klaten pasti mampir dulunya,” ucap Nurul.
Ada pun harga ayam panggang dalam ukuran utuh dibanderol Rp 110 ribu. Sedangkan ukuran setengah potong dibanderol Rp 55 ribu. Ada pula ayam panggang dengan potongan seperempat dalam bentuk nasi kotak lengkap dengan nasi, lalapan dan sambal dengan harga Rp 33 ribu.
”Kalau ayam panggang sendiri tahan di suhu ruang seharian. Jadi kalau mau dibawa ke Jakarta, dalam perjalanan masih aman,” tandasnya. (ren/adi/dam) Editor : Damianus Bram