Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Jenang Kapuronto khas Makam Sunan Pandanaran Klaten: Tak Dijual, Baru Boleh Dicicipi setelah Didoakan

Angga Purenda • Sabtu, 29 Juli 2023 | 19:10 WIB

 

Sajian Jenang Kapuronto yang dibungkus dengan daun pisang.
Sajian Jenang Kapuronto yang dibungkus dengan daun pisang.

RADARSOLO.COM - Wisata religi di Makam Sunan Pandanaran, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten punya satu sajian menarik. Yakni Jenang Kapuronto. Bentuknya menyerupai wajik, namun di atasnya terdapat parutan kelapa yang disangrai.

Jenang Kapuronto ini rutin disajikan setiap momen Hari Jadi Klaten. Mengingat kompleks makam tersebut menjadi salah satu lokasi ziarah Forkopimda Klaten. Seperti halnya kemarin (28/7), Jenang Kapuronto juga disajikan untuk disantap usai doa. Biasanya disajikan bersama nasi putih tumpeng, ketupat, sambal goreng, ayam ingkung hingga kerupuk.

Seperti diketahui, Ki Ageng Pandanaran atau yang dikenal dengan Sunan Pandanaran merupakan seorang Adipati Semarang. Atas petunjuk Sunan Kalijaga meninggalkan Kota Semarang untuk menyiarkan agama Islam. Salah satunya di Kecamatan Bayat dan sekitarnya.

Jenang Kapuronto menjadi kuliner khas yang dibuat dan disajikan oleh warga setempat. Terutama dalam setiap kali kondangan di kompleks makam Sunan Pandanaran. Jenang tersebut tidak diproduksi setiap harinya maupun diperjualbelikan ke masyarakat umum.

Adapun bahan dasarnya beras ketan, santan kelapa dan gula Jawa. Untuk prosesnya diawali dari merebus beras ketan hingga matang. Sambil diaduk dengan gula Jawa dan santan. Diaduk hingga airnya tinggal sedikit.

Kemudian didiamkan selama kurang lebih 15 menit. Sebelum akhirnya dimasukan ke dalam wadah atau bungkus yang terbuat dari daun pisang. Lalu diberikan parutan kelapa yang disangrai di atasnya.

”Proses memasaknya tidak lama. Jenang Kapuronto ini disajikan sebagai ungkapan rasa syukur atas doa yang dikabulkan. Biasanya setelah memanjatkan doa, lalu jenang itu dibagi-bagikan kepada masyarakat di sekitar kompleks makam Sunan Pandanaran,” ucap Juru Kunci Makam Sunan Pandanaran, Sugiyanto.

Lebih lanjut, Sugiyanto menerangkan, sajian Jenang Kapuranto bersama berbagai menu kondangan lainnya merupakan peninggalan tradisi dari Sunan Pandanaran. Hal tersebut masih dilestarikan sampai saat ini.

Menariknya, dalam proses membuat jenang tersebut terdapat pantangan yang harus dipatuhi oleh pembuatnya. Yakni tidak boleh mencicipi sama sekali saat hendak disajikan. Tetapi setelah memanjatkan doa bersama, jenang tersebut bisa disantap.

”Kalau dicicipi berarti kita memberikan sisa kepada orang lain. Pantangan ini tidak tertulis,” tambah Sugiyanto.

Sementara itu, salah seorang peziarah asal Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) Ibnu Dwi Tamtomo, 30, menjelaskan, awal melihat Jenang Kapuronto mengiranya seperti tiwul. Tetapi setelah dilihat secara seksama lebih mirip dengan wajik.

”Apalagi bahan dasar untuk membuat jenang itu juga sama dengan wajik. Otomatis rasanya manis dan gurih karena menggunakan santan,” ucap Ibnu.

Ibnu mengharapkan, kuliner Jenang Kapuronto perlu dilestarikan. Mengingat hanya dibuat di momen tertentu saja. Bahkan tidak ada berani yang menjual. (ren/adi/ria)

Editor : Syahaamah Fikria
#jenang kapuronto #kuliner klaten #Hari Jadi Klaten #Sunan Pandanaran