RADARSOLO.COM - Wonogiri banyak memiliki warung makan legendaris. Salah satunya warung Mbah Bhet di wilayah Wonogiri Kota. Warung ini memiliki sejumlah menu andalan dan bertahan tiga beberapa generasi.
Warung makan Mbah Bhet berada tepat di depan Stasiun Wonogiri. Jadi, saat berkunjung ke Wonogiri dengan menggunakan kereta Bathara Kresna, warung ini bisa menjadi salah satu opsi tempat makan terdekat.
Jaraknya juga sangat dekat dengan Terminal Tipe C Wonogiri. Jadi, saat menjajal Trans Jateng koridor VII (Solo-Wonogiri) yang belum lama di-launching, warung ini juga bisa menjadi opsi. Terdapat sejumlah menu di warung tersebut. Sebut saja lontong opor, nasi langgi hingga bubur lemu. Rasanya juga dijamin mak nyus.
Agus Suparno, 47, cucu Mbah Bhet mengungkapkan, warungnya sudah bertahan selama tiga generasi. Generasi pertama adalah Mbah Bhet, kemudian ibunya dan terakhir kini dikelola oleh Agus.
”Kalau Mbah Bhet generasi pertama sejak 1971. Diganti ibu saya 1982. Kalau saya sejak 2018 sejak ibu saya meninggal,” kata dia Kamis (17/8).
Dulunya, warung Mbah Bhet berada di sisi barat Toserba Baru Wonogiri. Namun sejak 2015 berpindah ke lokasi saat ini, depan Stasiun Wonogiri. Agus menerangkan, lontong opor di warung itu berbeda dari lontong opor lainnya. Yang membuat beda adalah bumbu kelapa dan taburan bubuk kedelai di atasnya. Menurut dia, lontong opor itu juga kerap disebut lontong Cap Go Meh. Sebab ada bubuk kedelai dan bumbu kelapanya.
”Kalau lontong lain seperti yang disajikan saat Idul Fitri kan tidak pakai itu biasanya. Yang bikin beda itu. Orang Tionghoa menyebutnya lontong Cap Go Meh,” kata dia.
Sementara untuk isi lontong opor yang dicicipi Jawa Pos Radar Solo, bumbu kelapa dan bubuk kedelai juga melengkapi lontong, suwiran ayam, sambal goreng, gudeg, opor dan telur.
”Ada juga nasi lenjong. Kalau nasi lenjong, semua masakan yang saya masak, masuk di dalamnya. Mulai dari oseng, sambal goreng, opor, suwiran daging dan lainnya. Kalau nasi langgi kan cenderung kering, kalau ini semuanya masuk,” kata dia.
Agus menambahkan, untuk harga satu porsi lontong opor dibanderol Rp 18 ribu. Nasi langgi dan nasi lenjong Rp 16 ribu. Untuk bubur lemu dihargai Rp 12 ribu per porsinya.
Erlangga Bima Sakti, 26, yang menjajal nasi langgi di warung tersebut mengatakan, rasa masakan di warung tersebut enak. Dia juga ketagihan dan berencana kembali menjajal menu lainnya.
”Pertama ke sini diajak teman. Nasi langginya enak. Besok mau mencoba lontong opornya, yang pesan lontong opornya banyak ternyata,” kata dia. (al/adi)
Editor : Damianus Bram