RADARSOLO.COM - Ada banyak menu sarapan di Klaten yang melegenda. Salah satunya Nasi Langgi Bu Mirah di Kampung Sekalekan, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah yang sudah dijual sejak 1960-an.
Lokasi warung ini tidak jauh dari Jalan Pemuda. Tetapi tidak ada tanda nama warung yang menunjukkan berjualan nasi langgi.
Sebab, Nasi Langgi Bu Mirah hanya memanfaatkan bagian depan rumah yang sederhana, namun sudah dikenal pelanggannya dari berbagai kota.
Sebenarnya menu yang ditawarkan untuk sarapan tidak hanya nasi langgi. Ada juga nasi rames, nasi gudeg dan lontong opor. Tetapi nasi langgi menjadi menu paling favorit yang dipesan para pelanggannya.
Menu nasi langgi sendiri tak asing bagi masyarakat Klaten. Nasi dengan lauk irisan daging sapi (terik daging), serundeng, mi soun dan kering tempe. Ditambah irisan telur dadar, telur pindang dan sambal yang bisa menggoyang lidah.
Saat menyantapnya akan merasakan perpaduan rasa manis dan gurih menyatu. Tak heran, ratusan porsi setiap harinya dipesan pelanggan karena rasanya yang sedap.
Dengan tempat yang terbatas, pengunjung rela antre untuk menikmati seporsi nasi langgi Bu Mirah.
Bahkan ketika ramai, pelanggan bisa menikmati nasi langgi dalam piring di dalam rumah yang sekaligus menjadi tempat produksi tersebut. Bisa juga dibawa pulang untuk dinikmati bersama keluarga di rumah.
Untuk menikmati seporsi nasi langgi dengan resep turun temurun itu cukup merogoh kocek Rp 13.000.
”Pertama kali berjualan itu eyang (nenek, Red) saya Bu Mirah. Sejak awal berjualannya di Kampung Sekalekan. Kemudian diteruskan oleh ibu saya (Sri Supraptini) sekira 1972-an. Lalu dilanjutkan oleh istri saya (Ida Rafida) sejak 2019, sehingga sudah memasuki generasi yang ketiga,” ucap Yudi Irwanto, 60, kepada Radarsolo.com.
Yudi mengaku, nasi langgi menjadi salah menu yang paling banyak dipesan pelanggan karena kuliner langka.
Terlebih lagi, menu ini jarang ditemui untuk menjadi pilihan sarapan. Tak heran, sejak pukul 05.00 sudah ramai pembeli yang datang silih berganti hingga pukul 11.00.
Proses memasak untuk empat menu termasuk nasi langgi sudah dimulai satu hari sebelumnya. Dimulai pukul 09.00 dengan dibantu lima tenaga di dapur untuk mengolahnya.
Dilanjutkan keesokan harinya pada pukul 04.00, sebelum akhirnya buka pada pukul 05.00.
Pelanggannya tak hanya datang dari Klaten, tetapi juga wilayah Solo dan Jogja. Bahkan dari Surabaya, Kudus hingga Jakarta. Terutama mereka yang sudah menjadi pelanggan sejak lama dan kebetulan melintasi Kota Klaten.
Termasuk mereka yang memiliki kenangan tersendiri saat menikmati nasi langgi Bu Mirah yang melegenda itu.
”Mungkin mereka yang pernah sekolah di Klaten tetapi domisili di Jakarta, menyempatkan waktunya sarapan di sini,” tandasnya. (ren/adi/ria)
Editor : Syahaamah Fikria