RADARSOLO.COM - Produk keripik paru bisa jadi pilihan utama untuk dijadikan oleh-oleh saat mengunjungi Kabupaten Klaten. Bisa langsung berburu di Gang Latar Putih, Kampung Tegal Kepatihan, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten.
Sepanjang gang tersebut, setidaknya ada enam pelaku usaha yang memproduksi keripik paru. Cikal bakal berkembangnya keripik paru khas Klaten di Kampung Tegal Kepatihan ini tidak bisa dilepaskan dari sosok Mbah Mangun.
Dia sudah berjualan olahan paru sejak 1960 yang kini sudah memasuki generasi ketiga, yakni Hendro Dwi Kurniawan, 37. Dia setiap harinya memproduksi keripik paru yang begitu renyah tersebut.
Hendro menceritakan, awalnya sang kakek (Mbah Mangun) merupakan seorang pensiunan polisi. Lalu memutuskan untuk memulai usaha mengolah paru dengan cara dibacem pada 1960. Saat itu Mbah Mangun berjualan paru bacem dengan keliling menyusuri Kota Klaten dan sekitarnya.
Kemudian pada 1965 mencoba berinovasi dengan membuat keripik paru. Tetapi hanya berjualan di kediamannya saja. Tapi siapa sangka mendapatkan sambutan positif dari masyarakat hingga akhirnya eksis sampai saat ini.
”Lalu sekarang sudah berkembang. Selain keripik paru juga keripik belut. Sedangkan yang baru yakni keripik cakar. Ada juga keripik bayam dan keripik tempe,” ujar Hendro, Jumat (19/4/2024).
Dari inovasi itulah, kini muncul berkembang pelaku usaha keripik paru lainnya di kampung tersebut. Terutama para tetangga yang dahulunya sempat belajar membuat keripik paru di kediaman Mbah Mangun. Termasuk para karyawan yang pernah bekerja di rumah produksi keripik paru Mbah Mangun kini memilih membuka usahanya secara mandiri.
Hendro mengungkapkan, bahan utama dari keripik khas Klaten itu merupakan organ paru. Guna memenuhi bahan tersebut, dia mengandalkan penjagal sapi dari Klaten dan sekitarnya. Termasuk melakukan impor bagian paru sapi dari Australia.
”Selain paru, untuk mengolahnya kami gunakan penyedap rasa. Begitu juga bawang, telur dan santan. Untuk cita rasa dari keripik paru itu gurih,” ujar Hendro.
Hendro mengungkapkan, dalam satu bulan pada hari biasa bisa memproduksi 100 kilogram (kg). Tetapi ketika momentum Lebaran lalu bisa naik tujuh kali lipat karena tingginya permintaan.
Dalam memproduksi keripik paru dibantu sejumlah tenaga, mulai dari bagian menyisir paru, proses penggorengan hingga pengemasan.
Pembelian dilayani dengan datang langsung ke rumah produksi di Gang Latar Putih. Termasuk melayani penjualan secara online melalui e-commerce.
Ada pun pemasaran didominasi dengan tujuan ke Jakarta, Jogjakarta dan sekitarnya. Untuk harga keripik paru dibandrol Rp 190 ribu per kg.
”Keripik paru ini bisa sebagai camilan. Cocok untuk menemani minum kopi,” tambah Hendro.
Hendro pun terus berkomitmen untuk menjaga cita rasa dan kualitas dari produk keripik paru yang diawali oleh kakeknya tersebut. Termasuk melestarikan kuliner khas Klaten yang bisa dijadikan oleh-oleh tersebut. (ren/adi)
Editor : Niko auglandy