RADARSOLO.COM – Pasar Gedhe Klaten yang berdiri megah di jantung kota telah menjadi ikon baru setelah diresmikan pada tahun lalu. Tak ada salahnya mampir menikmati kuliner khas Es Dawet Ayu Bu Handayani yang sudah eksis sejak 1960-an.
Warung dari es dawet ayu ini berlokasi di lantai II Zona B Pasar Gedhe Klaten yang dahulunya merupakan kawasan terminal angkutan. Sebelum akhirnya dibangun gedung yang baru saat ini menjadi salah satu kuliner yang menemani perkembangan pasar tersebut dari awal sampai saat ini.
Ada pun komposisi dari es dawet ayu tersebut terdiri dari cendol, santan dan gula jawa. Cendolnya sendiri terbuat dari tepung beras yang memiliki tekstur begitu lembut. Terlebih lagi hadir dalam tiga warna yakni merah, putih dan hijau.
Bagi yang hendak menikmati seporsi es dawet ayu di lokasi, akan disajikan dalam sebuah mangkuk kecil. Menariknya, pedagang tidak menyediakan sendok sama sekali bagi pelanggannya untuk mengambil cendol. Mengingat untuk menikmatinya dengan cara diseruput saja karena tekstur dari cendolnya begitu lembut, sehingga mudah hancur saat di mulut.
Tetapi pedagang tetap menyediakan sedotan bagi pelanggan yang kesulitan untuk menikmati es dawet ayu dengan diseruput. Seporsi es dawet ayu Bu Handayani itu dijual dengan harga Rp 4.000. Tetapi jika hendak dibawa pulang dengan kemasan dibungkus pisah (cendol, gula jawa dan santan dibungkus terpisah) harganya Rp 7.000 per kemasan.
Warung es dawet ayu Bu Handayani di Pasar Gedhe Klaten buka mulai pukul 08.30 hingga 16.00. Dawet ayu di pasar tradisional itu dikelola oleh Sri Siswanti, 40. Tetapi enam tahun terakhir dawet ayu Bu Handayani juga buka di samping gang masuk di tepi Jalan Rajawali, Gang Latar Putih, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah.
”Awalnya yang berjualan dawet ayu ini simbah putri saya, namanya Saibah Cipto Diono lalu Bu Handayani. Pertama kali jualan dulunya di lantai bawah tengah pasar. Tapi dari dulu memang hanya berjualan dawet saja,” ujar Sri Siswanti Jumat (26/4).
Sri mengungkapkan, komposisi dawet ayu dijual oleh neneknya hingga saat ini masih sama. Termasuk bahan utama untuk membuatnya dari tepung beras. Begitu juga cara menikmati semangkuk dawet ayu dengan diseruput juga sudah dari dulu dan kini menjadi ciri khasnya.
”Cita rasa dari es dawet ayu ini berpaduan manis dan gurih. Tergantung pelanggan meminta seperti apa. Ada yang suka gurih sehingga hanya diberikan santan saja. Ada juga yang meminta gulanya sedikit,” ucap Sri.
Baca Juga: Bukan Sembarang Botok! Botok Belut dari Desa Tangkil Sragen, Pedas Segar Bikin Nagih
Dalam sehari bisa menjual lebih dari 300 porsi es dawet ayu saat momen Lebaran. Bahkan pelanggan yang datang tidak hanya dari Klaten saja tetapi juga Jakarta. Mengingat juga membeli dawet ayu untuk dijadikan oleh-oleh. Terutama yang dibungkus dengan kemasan terpisah.
”Kalau pelanggan sendiri yang pernah mempratikan, jika disimpan di kulkas bisa tahan sampai dua hari. Bisa juga disimpan di freezer yang nantinya dinikmati seperti es krim,” tambah Sri. (ren/adi)
Editor : Adi Pras