Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kuliner Enak Boyolali: Awalnya Dijajakan dengan Cara Dipikul, Kini Bakso Urat di Pulisen Ini Habiskan 61 Kg Daging Sapi per Hari

Ragil Listiyo • Sabtu, 25 Mei 2024 | 01:49 WIB
Warung bakso Pak Giyem di Jalan Kangkung, Kampung Poncobudoyo, Kelurahan Pulisen, Boyolali tak pernah sepi pembeli.
Warung bakso Pak Giyem di Jalan Kangkung, Kampung Poncobudoyo, Kelurahan Pulisen, Boyolali tak pernah sepi pembeli.

RADARSOLO.COM–Telaten, sabar, dan konsisten menjaga rasa. Itulah yang dilakukan Pak Giyem dalam berjualan bakso.

Warung bakso di Jalan Kangkung, Kampung Poncobudoyo, Kelurahan Pulisen, Boyolali ini tak pernah sepi.

Ya di tempat itulah, Rusmiyati, 42, anak pak Giyem meneruskan usaha sang ayah yang dirintis sejak 30 tahun lalu.

Tersedia tiga varian menu bakso. Bakso urat berisi tiga biji pentol berukuran cukup besar.

Bakso halus berisi lima biji pentol tanpa urat, dan bakso campur berupa pentol urat dan halus.

Satu mangkok bakso campur dan halus dibanderol Rp 15 ribu. Sedangkan bakso urat per porsi dihargai Rp 17 ribu.

Rasa kaldu kuah bakso sangat terasa. Rebusan tulang sapi dan tetelan menambah segar kuah bakso.

Sedangkan pentolnya, hmmmm….. full daging sapi.

“Ada resep keluarga yang buat beda dari yang lain. Termasuk baksonya buat sendiri," ujar Rusmiyati, Jumat (24/5/2024).

Dalam sehari, Rusmiyati menghabiskan 61 kilogram (kg) daging sapi. Sedangkan tetelannya bisa habis 7 kg per hari.

“Yang bikin enak, pentol baksonya murni daging tanpa campuran. Kuahnya sangat mengkaldu,” tutur Rusmiyati.

Untuk menghasilkan kuah segar dengan kaldu sapi, Rusmiyati mulai merebus air dengan campuran tulang sapi dan tetelan sejak pukul 07.30.

Baru setelah itu, lapak akan dibuka pukul 09.00.

"Merebusnya pakai tungku arang, jadi nambah sedap kuahnya. Memang yang paling favorit itu bakso urat dan tetelan,” ujarnya.

Ditambahkan Rusmiyati, sang ayah mulai berjualan bakso pada 1990-an.

Kala itu, Pak Giyem menjajakan baksonya dengan cara dipikul keluar masuk kampung.

Kemudian bertransformasi menggunakan gerobak. Baru selama 10 tahun terakhir, Pak Giyem yang kini sudah sepuh membuka lapak di rumahnya.

Usaha tersebut diteruskan sang anak. "Pelanggannya dari jauh. Ada dari Jogjakarta dan Semarang,” ungkap Rusmiyati. (rgl/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#kelurahan pulisen #Boyolali #bakso pak giyem #kuliner enak