Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Pindang Mbok Sinem Ngadirojo Wonogiri, Sensasi Bubur Gaplek dengan Jeroan Kambing

Iwan Adi Luhung • Sabtu, 20 Juli 2024 | 13:50 WIB
Pindang Mbok Sinem di Ngadirojo, Wonogiri disajikan dengan daun jati. (Iwan Adi Luhung/Radar Solo)
Pindang Mbok Sinem di Ngadirojo, Wonogiri disajikan dengan daun jati. (Iwan Adi Luhung/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Kecamatan Ngadirojo, Wonogiri punya kuliner legendaris. Berbahan tepung gaplek dan jeroan kambing, pindang Mbok Sinem telah menggoyang lidah warga Ngadirojo dan sekitarnya selama puluhan tahun.

Mbok Sinem mengaku telah menjajakan pindang sejak 1988 lalu. Pindang adalah makanan yang berbentuk seperti bubur. Teksturnya lembek, agak cair saat baru matang dan kental beberapa saat kemudian. Tepung gaplek dimasak bersamaan dengan jeroan seperti kikil, babat, iso paru dan jeroan kambing lainnya.

Mbok Sinem menjajakan pindang bikinannya di rumahnya di Dusun Sambirejo RT 1 RW 9 Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo. Pembeli ramai memburu dagangannya sejak sore hari. Memasaknya juga dengan cara tradisional. Yakni menggunakan kayu bakar.

”Kalau untuk buka ya setiap hari buka,” ujar Mbok Sinem, Jumat (19/7/2024).

Saat ramai-ramainya, satu panci pindang dan satu wajan jeroan cepat terjual. Tak jarang, habis dalam waktu satu setengah jam.

”Tapi ini baru sepi, setelah Idul Adha agak sepi memang yang beli. Tapi ya nggak papa,” ujar dia.

Mbok Sinem masih eksis berjualan pindang di rumahnya di Ngadirojo, Wonogiri. (Iwan Adi Luhung/Radar Solo)
Mbok Sinem masih eksis berjualan pindang di rumahnya di Ngadirojo, Wonogiri. (Iwan Adi Luhung/Radar Solo)

Mbok Sinem dulunya yang memasak sendiri pindang dan jeroan itu. Namun kini, resep dan cara memasaknya telah diturunkan ke anak-anaknya.

”Saya ngaduk saja sudah nggak kuat mas,” kata Mbok Sinem sambil terkekeh.

Namun demikian, Mbok Sinem tetap yang menjajakan pindang itu di dapur rumahnya. Sebab, dia tetap ingin berkegiatan di usianya yang sudah 80-an tahun.

”Kalau dulu saya masih kuat. Yang motong kambing suwargi (mendiang) suami saya yang memasak. Nanti kalau sudah nggak kuat ya leren (istirahat). Pasrahkan ke anak-anak,” ungkapnya.

Adapun harga pindang menyesuaikan permintaan pembeli. Jika ingin beli Rp 5 ribu dilayani, Rp 10 ribu juga dilayani. Mbok Sinem akan membungkus pindang dengan daun jati.

Wahyu, 27, warga Kecamatan Wonogiri Kota mengaku sudah lama mencicipi pindang bikinan Mbok Sinem. Menurut dia, pindang itu enak.

”Ini kan legend ya, dulu banget juga pernah ke sini. Pindangnya enak, jeroannya juga enak,” tandasnya. (al/adi)

Editor : Adi Pras
#idul adha #babat #pindang #daun jati #Tepung Gaplek #Paru #kikil #wonogiri #ngadirojo #jeroan kambing