Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Sensasi Sego Yuyu Pak Jenggot Khas Sendang Sinongko Ceper Klaten

Angga Purenda • Minggu, 8 September 2024 | 20:06 WIB
Seporsi sego yuyu Pak Jenggot khas Sendang Sinongko, Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Seporsi sego yuyu Pak Jenggot khas Sendang Sinongko, Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Sendang Sinongko merupakan salah satu sumber mata air yang ada di Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Klaten.

Selain dimanfaatkan untuk pengairan lahan pertanian di sekitarnya, juga menjadi spot favorit untuk kegiatan memancing.

Menariknya, kawasan Sendang Sinongko yang begitu rindang karena rimbunnya pepohonan itu memiliki kuliner khas yang patut dicoba. Yakni Sego Yuyu Pak Jenggot yang sudah eksis selama 25 tahun lamanya.

Warung sego yuyu itu dikelola oleh pasangan suami-istri yakni Sri Widodo, 59, dan Khatarina Puji Astuti, 53. Sri Widodo yang akrab dipanggil Pak Jenggot, selama ini mencari yuyu di sendang, sungai dan lahan pertanian.

Sedangkan istrinya, Rina yang mengolah yuyu menjadi sajian kuliner khas setempat.

“Awalnya suami saya mencari ikan dengan setrum di sungai. Mulai dari ikan wader, ikan sepat, udang dan ikan-ikan kecil. Saya jual per Kg dengan keliling desa,” cerita Rina terkait awal mula munculnya sajian sego yuyu saat ditemui radarsolo.com Jumat (6/9/2024).

Aktivitas menjual ikan itu membuat Rina merasakan lelah sehingga mengolahnya menjadi nasi kucing.

Pada sajian nasi kucing itu terdapat lauk seperti ikan cethul, udang, jamur, sambal dan mentimun.

Setiap kali menangkap ikan, suaminya, Pak Jenggot juga mendapatkan yuyu. Hingga akhirnya Rina mencoba untuk mengolah dengan dimasak goreng.

Tetapi tidak dijual, hanya saja setiap kali pelanggannya menikmati yuyu itu merasa cocok dan ketagihan.

“Ada bilang yang rasanya enak. Makanya kami mencari yuyu lagi untuk diolah. Dikarenakan banyak yang mencari hingga akhirnya beralih menjadi nasi yuyu atau sego yuyu. Bukan lagi nasi kucing,” ujar Rina.

Ia mengaku, mengolah yuyu menjadi kuliner khas berawal dari coba-coba mengolahnya. Mengingat sepengetahuannya belum ada warung yang menjual sego yuyu.

Sementara itu, untuk bahan utama yakni yuyu masih mencari sendiri oleh suaminya setiap malam. Ketika musim hujan tiba bisa mengumpulkan yuyu dalam wadah berkapasitas 25 Kg.

Tetapi saat musim kemarau mengalami penurunan sehingga stoknya terbatas.

“Untuk mengolahnya pun harus ekstra hati-hati. Mulai dari pembersihan hingga proses penggorengan karena gampang rapuh. Tapi kami terus usahakan disajikan dalam kondisi utuh sehingga tidak hancur,” ujar Rina.

Yuyu yang diolah Rina hanya dimasak dengan bumbu bawang dan garam serta bumbu marinasi. Satu porsinya berisi nasi, ikan cethul, udang, yuyu dan sambal lombok ijo.

Bisa juga dipadukan dengan sayur, jamur dan ati kecap sebagai alternatifnya.

“Untuk satu porsi sego yuyu dibandrol dengan harga Rp 5.000. Saat ramai pun bisa melayani hingga 100 porsi dalam sehari. Pelanggan yang datang tidak hanya dari Klaten saja, tetapi juga Bandung, Gunungkidul, Semarang dan Solo. Mereka secara khusus memesan yuyunya saja,” ujar Rina.(ren/adi)

Editor : Adi Pras
#klaten #ceper #kuliner #Yuyu