Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Sompil Jogonalan, Salah Satu Kuliner Langka dari Klaten: Mirip Ketupat, Cita Rasa Lebih Gurih

Angga Purenda • Minggu, 15 September 2024 | 14:05 WIB
Sajian sompil dengan lauk telur rebus maupun ayam pahan bawah utuh di warung makan sompil Bu Sri Koco di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)
Sajian sompil dengan lauk telur rebus maupun ayam pahan bawah utuh di warung makan sompil Bu Sri Koco di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Klaten. (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Sebuah teras rumah sederhana di Desa Gondangan, Kecamatan Jogonalan, Klaten menjadi lokasi untuk menikmati kuliner tradisional yang langka, yakni sompil.

Makanan dari beras ini dibungkus bambu apus berbentuk segitiga.

Sompil sebenarnya dihadirkan sebagai hidangan yang disajikan hanya sekali dalam setahun saat bulan Syawal saja.

Tetapi di tangan pasangan suami-istri Sri Hartini, 65, dan Sukoco, 76, sompil bisa dinikmati kapan saja.

Hingga akhirnya hadirlah warung makan dengan nama Sompil Bu Sri Koco.

”Sebenarnya saya sendiri sudah berjualan sejak 2008, usai selesai gempa Jogja 2006 sampai saat ini. Dari awal berjualan memang di rumah,” ujar Sukoco ditemui di kediamannya, Jumat (13/9/2024).

Dalam sajiannya, selain mendapatkan potongan sompil, juga dihidangkan dengan opor, sambal goreng krecek dan suwiran daging ayam.

Kemudian ditaburi ducang atau sambal kedelai dan kacang di atasnya.

Pelanggan bisa memilih lauk dengan telur rebus maupun ayam paha bawah utuh yang sudah dimasak dengan berbagai bumbu rempah-rempah.

Satu porsi seharga Rp 10.000 sampai Rp 13.000.

”Kuliner ini sudah hampir punah. Soalnya tradisinya hanya setahun sekali masyarakat di sekitar sini makan sompil ketika bulan Syawal saja," ujar Sukoco.

"Dari pada punah, terus saya coba untuk memproduksi setiap harinya. Jadi cuma satu-satunya (berjualan sompil) di sini,” imbuhnya.

Dalam sehari, Sukoco bisa menghabiskan 4 kilogram (kg) beras untuk diolah menjadi 400 porsi sompil.

Warungnya mulai buka pukul 11.00 sudah ramai pelanggan yang datang.

Meski berjualan hingga sore hari, tetapi banyaknya pesanan membuat warung bisa tutup lebih awal sekira pukul 14.00.

”Bentuknya segitiga itu karena mirip sompil atau keong. Makanya dulu ada namanya keong sompil,” ujar Sukoco saat menceritakan kuliner tradisional itu disebut sompil.

Untuk cita rasanya berbeda dengan ketupat dan lontong yang cenderung tawar, sedangkan sompil gurih.

Terlebih aromanya khas setelah direbus dengan daun bambu apus.

”Sompil ini juga sudah pernah mengantarkan saya menjuarai perlombaan kuliner khas Klaten saat peresmian Pasar Gedhe Klaten pada 2023. Jadi kebanyakan yang makan di sini selain dari warga sekitar juga dari Jogja, Solo dan Boyolali,” ujar Sukoco. (ren/adi)

Editor : Adi Pras
#cita rasa #klaten #lontong #ketupat #beras #Sompil #kuliner #gurih #jogonalan