RADARSOLO.COM - Warung Soto Anglo Mbah Atmo pertama kali dirintis pada 1967. Warung soto sederhana ini sudah berdiri sejak tiga generasi. Seperti ini keunikannya, berikut ulasannya.
Warung soto ini berdiri di pinggir Jalan Jogja-Solo, Desa Prawatan, Kecamatan Jogonalan, Klaten. Tapi siapa sangka warung yang menawarkan soto bening itu sudah eksis sejak 1967.
Kini telah dikelola oleh generasi ketiga dengan tetap mempertahankan cita rasa turun-temurun.
Warung soto ini pertama kali didirikan oleh Mbah Iman Karyo. Kemudian diteruskan oleh Atmo Karyo sebagai generasi kedua sekira 1980-an. Sebelum akhirnya dilanjutkan oleh Muhadi, 60 dan Sukinem, 72, hingga saat ini.
Menu yang ditawarkan sejak awal masih sama yakni soto ayam dan teh poci menjadi andalannya.
Untuk soto ayamnya disajikan dalam piring dengan kuah bening. Komposisi dalam satu porsi terdapat nasi, mi bihun, kecambah dan suwiran ayam dengan kuah kaldu ayam.
Teh poci dihadirkan untuk menemani saat menikmati soto bening tersebut.
Kehadiran minuman teh poci itu dikarenakan pada saat 1967 itu belum banyak angkringan yang menawarkan menu tersebut.
Minuman itu berasal dari rendaman (cem-ceman) teh yang disajikan dengan teko kecil.
”Untuk menyiapkan soto ayamnya ini dimulai sejak pagi yang masaknya masih menggunakan kayu bakar. Tapi warung baru siap melayani pembeli sekira Pukul 11.00. Biasanya Pukul 15.00, kami sudah tutup,” ujar pengelola Warung Soto Anglo Mbah Atmo, Muhadi, 60, saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Jumat (10/1).
Muhadi menjelaskan, sebagai generasi ketiga, terus menjaga cita rasa dari menu soto bening.
Bahkan untuk sajiannya tetap menggunakan piring seperti sejak awal. Meskipun sempat beralih ke mangkuk, tetapi akhirnya kembali lagi ke piring setelah mendapatkan saran dari pelanggannya.
Ada gorengan tempe dan tahu yang bisa menjadi lauk saat menikmati soto bening tersebut. Menariknya, warung soto tersebut juga menyediakan sukun goreng yang bisa dinikmati para pembelinya.
Terlebih lagi diawal berdirinya Soto Anglo Mbah Atmo itu juga terdapat gorengan ketela pohon yang diisi gula.
”Kalau yang ketela pohon itu terkenal saat mbah saya dulu. Kalau saat diteruskan ayah saya ya tahu dan tempe yang terkenal. Sampai saat ini,” tambah Muhadi.
Dia mengungkapkan, untuk satu porsi soto ayam dengan teh poci tersebut dibanderol dengan harga Rp 10.000.
Para pelanggannya berasal dari Klaten dan Yogyakarta yang didominasi sudah berusia lanjut usia. Mengingat mereka sudah menjadi pelanggan setia dari warung soto tersebut sejak puluhan tahun.
Muhadi pun bertekad untuk terus mempertahankan eksistensi Soto Anglo Mbah Atmo tersebut di tengah gempuran warung soto baru yang bermunculan.
Salah satu upayanya dengan mempertahankan cara mengolah dan memasak soto menggunakan kayu bakar. Menurutnya, hal itu sangat mempengaruhi cita rasa dari sajian sotonya.
”Warung soto ini kedepan ya tergantung dari para pelanggan sendiri. Maka itu, menjaga cita rasa itu sangat penting. Apalagi kini juga ada pelanggan baru setiap harinya,” ujar Muhadi. (ren/adi)
Editor : Damianus Bram