Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Shelter Kembul Swarga, Ikhtiar Swadaya Warga Banyuanyar Pulihkan Ekonomi: Sulap Tempat Pembuangan Sampah Liar Menjadi Pusat Kuliner

Antonius Christian • Senin, 27 Januari 2025 | 17:42 WIB
BERGELIAT: Selter kuliner yang digagas warga Banyuanyar menjadi pusat ekonomi baru.
BERGELIAT: Selter kuliner yang digagas warga Banyuanyar menjadi pusat ekonomi baru.

RADARSOLO.COM - Di tengah terpaan badai ekonomi, warga RW 12 Kelurahan Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari akar rumput.

Dengan swadaya, mereka mendirikan Shelter Kembul Swarga, kawasan niaga yang kini menjadi pusat ekonomi baru di Banyuanyar Selatan.

Meski gerimis membasahi kawasan itu, Sabtu malam (25/1/2025), suasana tetap hidup.

Pengunjung berdatangan membeli aneka jajanan di sepanjang shalter yang membentang hampir 60 meter.

Dari wedangan, nasi goreng, hingga jajanan kekinian tersedia di Shelter Kembul Swarga.

“Awalnya karena prihatin dengan kondisi ekonomi warga, kami mencari solusi. Tahun 2018 kami mulai, tetapi sempat terhenti karena pandemi. Akhir 2022, kami kembali bergerak,” ujar Moch Shoddiq, ketua Paguyuban Shelter yang juga ketua RW setempat.

Shoddiq mengisahkan, kawasan yang kini ramai ini dulunya penuh rumput liar dan menjadi tempat pembuangan sampah ilegal.

Warga bahu-membahu membersihkannya, meratakan tanah dengan alat berat, hingga akhirnya mendirikan selter.

Awalnya, tenda yang digunakan warga di shleter tersebut adalah hasil sewa.

“Pemasangan tenda dilakukan sore hari, dan malamnya dibongkar lagi. Begitu terus hingga ada bantuan CSR yang menyewakan tenda selama enam bulan,” kenang Shoddiq.

Kini, tenda permanen telah berdiri, dengan tambahan paving yang dipasang oleh warga sendiri.

Paguyuban Shelter Kembul Swarga tidak hanya menyediakan tempat bagi pedagang, tetapi juga mendukung dengan pelatihan dan modal awal.

Warga yang tidak mendapatkan kios diperbolehkan menitipkan produk mereka dengan sistem bagi hasil.

Namun, kontrol tetap dilakukan untuk menjaga kualitas dan keberlanjutan usaha.

“Kami punya tim yang menilai kinerja pedagang. Kalau ada pedagang yang dagangannya sepi karena makanan kurang higienis atau rasanya tidak konsisten, kami beri masukan. Jika tetap tidak berubah, kami sulit memberikan modal tambahan,” tegas Shoddiq.

Saat ini, 12 pedagang pagi dan 14 pedagang malam aktif berjualan di kawasan shalter, belum termasuk mereka yang menitipkan barang dagangan. Namun, perhatian pemerintah terhadap modal usaha dinilai masih kurang.

“Setiap musrenbang kami sampaikan usulan modal, tetapi belum pernah dapat. Bantuan terakhir dari Pak Teguh (wali kota Solo), atas nama pribadi, sangat membantu untuk operasional,” ungkap Shoddiq.

Shelter Kembul Swarga kini menjadi bukti nyata bagaimana swadaya warga bisa menggerakkan ekonomi lokal.

Shoddiq berharap, perhatian lebih dari pemerintah dapat memberikan tambahan modal bagi para pedagang untuk terus berkembang. (atn/bun)

Editor : Damianus Bram
#Shelter Kembul Swarga #banyuanyar #solo #Kawasan Niaga #kuliner di solo #wedangan