RADARSOLO.COM - Fajar baru saja mengintip di ufuk timur. Namun di belakang Pasar Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, asap tipis dan aroma rempah berbalur kecap sudah mulai memenuhi udara.
Sumbernya adalah warung sederhana Sate Bu Parwi atau Pak Dodo. Salah satu ikon kuliner legendaris yang telah hidup lebih dari satu abad.
Uniknya, warung sate ini hanya buka setiap hari Kliwon dalam kalender Jawa.
Widodo, atau akrab disapa Pak Dodo, kini menjadi generasi ketiga penerus usaha keluarga yang dirintis kakeknya, Mbah Kasan, sejak 1921.
”Dulu Mbah jualan. Setelah itu ibu saya, Bu Parwi sama bapak, meneruskan. Sekarang saya yang melanjutkan. Resep masih seperti dulu,” ujarnya ditemui Radarsolo.com.
Warung ini mulai buka pukul 04.00. Namun ketika Ramadan, pembakaran sudah dimulai sejak pukul 01.00 dini hari.
Hanya dalam waktu beberapa jam, tepatnya sebelum pukul 09.00 pagi, dua ekor kambing muda berusia sekitar tujuh bulan yang disembelih khusus untuk hari itu sudah ludes habis.
”Sebelum jam 09.00 biasanya sudah habis,” katanya.
Keistimewaan warung ini bukan hanya pada sejarah panjangnya, tetapi juga pada cita rasa satenya yang begitu khas dan otentik.
Sate kambing bakarnya terkenal empuk, dagingnya tidak amis, tidak prengus, berpadu dengan bumbu kacang dan kecap khas racikan turun-temurun.
Baca Juga: Pemandian Air Panas Ngunut di Sambirejo Sragen, Keajaiban Vulkanis Gunung Lawu
Dari resep rahasianya itu menyuguhkan sensasi gurih, manis, pedas, dan sedikit smoki dari pembakaran yang justru menambah kenikmatan.
”Resep masih seperti dulu, turun temurun,” katanya.
Tidak hanya sate bakar, warung ini juga menyediakan tongseng, nasi goreng kambing, dan gulai kambing yang tak kalah menggoda.
Kuah tongsengnya kental dengan racikan rempah khas keluarga. Sedangkan gulainya beraroma harum dengan cita rasa dalam yang sulit dilupakan.
Porsinya pun cukup dan mengenyangkan, cocok untuk sarapan berat yang memuaskan. Per porsi dibanderol antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.
Yang menarik, hingga kini Pak Dodo masih menggunakan pikulan asli milik Mbah Kasan sebagai bagian dari alat jualannya.
Pikulan kayu itu menjadi simbol perlawanan terhadap zaman dan bentuk penghormatan pada sejarah keluarga.
”Ini bukan sekadar alat, tapi juga identitas. Saya pertahankan karena ini saksi hidup perjuangan keluarga kami,” katanya.
Kisah Sate Bu Parwi atau Pak Dodo bukan hanya tentang kuliner, melainkan tentang cinta, konsistensi, dan dedikasi dalam menjaga warisan leluhur.
Di tengah era makanan cepat saji dan digitalisasi, warung ini berdiri kokoh dengan prinsip: melayani dengan rasa dan cerita. (kwl/adi)
Editor : Adi Pras