RADARSOLO.COM - Di balik aroma asap yang menggoda di Kampung Madyorejo, Kelurahan Jetis, Kecamatan/Kabupaten Sukoharjo, terdapat kisah panjang dan penuh perjuangan dari seorang perantau asal Kecamatan Jatipurno, Kabupaten Wonogiri. Dialah Momo, pemilik warung legendaris Sate Kambing Pak Momo, yang sudah berjualan sejak 1987.
“Saya ini merantau sejak umur 15 tahun, itu tahun 1975. Nggak mau sekolah, jadi ikut orang jualan sate di Solo. Kerjaan saya awalnya cuma cuci piring. Tapi lama-lama diajari masak, dan ternyata cocok,” cerita Pak Momo sambil membakar sate di atas arang yang membara.
Keahliannya dalam mengolah daging membuatnya dipercaya membuka cabang usaha sate milik juragannya di kawasan Keprabon, Solo. Namun hasrat untuk mandiri membawanya membuka lapak sendiri di Simpang Lima Sukoharjo, tepat di depan kantor BRI.
“Waktu itu sewa tempat dua tahun Rp 700 ribu. Di modali pak jepala BRI dulu. Jaman dulu itu mahal banget, cuma buat lapak kecil, emplek-emplek,” kenangnya sambil tertawa.
Tahun 1995, warungnya berpindah ke lokasi yang sekarang, di RT 3 RW 7 Kampung Madyorejo. Masih di pusat kota, pelanggan tetap setia datang, bahkan makin ramai. Rahasianya ada pada daging kambing muda berusia enam bulan yang dipotong sendiri dan segar setiap hari.
“Sehari bisa habis 4 sampai 5 ekor kambing. Masakan saya nggak cuma sate bakar, tapi juga ada sate masak, gulai, sampai tengkleng,” ujarnya.
Tak hanya sejarahnya yang panjang, cita rasa sate buatan Pak Momo juga menjadi magnet utama. Potongan daging kambing muda yang empuk, dibakar sempurna dengan bumbu kecap khas racikan sendiri, menghasilkan aroma yang menggelitik indra penciuman.
Saat digigit, rasa gurih, manis, dan sedikit smokey menyatu dengan sempurna di lidah. Disajikan bersama irisan kol, bawang merah, dan cabai rawit. Tiap tusuk sate menjadi kenikmatan yang sulit dilupakan.
“Dagingnya empuk, nggak bau prengus. Bumbunya juga beda. Banyak pelanggan bilang sate saya bikin nagih,” ujar Pak Momo.
Bahkan menu gulai dan tengklengnya pun tak kalah menggoda—kuahnya kental, kaya rempah, dan terasa hangat di perut.
Cita rasa khas olahan Pak Momo membuat warungnya digemari banyak kalangan, termasuk para pejabat.
“Semua bupati Sukoharjo pernah makan di sini. Dari Pak Setiawan Sadono, Pak Tedjo Suminto, Bambang Riyanto, Pak Wardoyo Wijaya sampai Bu Etik Suryani. Pak Wardoyo itu malah hampir tiap hari ke sini,” ungkapnya.
Kini, usaha yang dirintis puluhan tahun silam itu mulai diteruskan oleh anaknya.
“Ya sekarang dibantu anak. Biar nanti bisa lanjut terus,” harap Pak Momo.
Sate Kambing Pak Momo bukan sekadar kuliner, tapi bagian dari sejarah dan rasa khas Sukoharjo. Di setiap tusuknya, ada cita rasa otentik, aroma nostalgia, dan cerita panjang perjuangan yang tersaji hangat di atas piring sederhana. (kwl/fer)
Editor : fery ardi susanto