Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sejarah dan Filosofi Nasi Liwet Solo, Kuliner Legendaris yang Jadi Ikon Kota Budaya dan Favorit Wisatawan

Nur Pramudito • Jumat, 19 September 2025 | 18:08 WIB

Sejarah dan filosofi nasi liwet Solo, kuliner legendaris yang jadi ikon Kota Budaya dan favorit wisatawan.
Sejarah dan filosofi nasi liwet Solo, kuliner legendaris yang jadi ikon Kota Budaya dan favorit wisatawan.

RADARSOLO.COM – Ketika berbicara soal kuliner khas Solo, nasi liwet selalu menjadi juara.

Hidangan tradisional yang terdiri dari nasi gurih, suwiran ayam, telur pindang, sayur labu siam, dan siraman areh (kuah santan kental) ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya Kota Solo.

Tak hanya lezat, nasi liwet menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam.

Ciri Khas Nasi Liwet Solo

Nasi liwet Solo, atau sering disebut sego liwet, berbeda dengan nasi liwet dari daerah lain seperti Jawa Barat.

Nasinya dimasak dengan santan, disiram dengan kuah sayur labu siam, dan dilengkapi lauk pendamping.

Setiap elemen memiliki makna simbolis: nasi putih melambangkan kesucian hati, telur sebagai sumber kehidupan, dan suwiran ayam melambangkan semangat berbagi.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Nasi Liwet Legendaris di Solo yang Wajib Dicoba, Bisa Dinikmati dari Pagi hingga Malam

Sejarah Panjang Nasi Liwet Solo

Menurut laman Pemerintah Kota Surakarta, asal-usul nasi liwet berasal dari Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.

Dahulu, masyarakat setempat memasak nasi gurih dengan santan untuk acara syukuran dan ritual keagamaan.

Tradisi ini tercatat dalam Serat Centhini abad ke-19, yang mendokumentasikan adat, filosofi, dan kuliner masyarakat Jawa.

Pada tahun 1930-an, nasi liwet mulai dibawa ke pusat Kota Solo untuk dijual.

Popularitasnya meningkat, hingga dikenal oleh kalangan bangsawan keraton.

Bahkan, nasi liwet sudah menjadi hidangan istimewa di lingkungan Keraton Surakarta pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwana IX (1861–1893), dan kerap disajikan saat peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Filosofi di Balik Sajian Nasi Liwet

Nasi liwet lebih dari sekadar makanan. Hidangan ini biasanya hadir dalam selamatan atau syukuran, diyakini membawa keselamatan saat terjadi bencana.

Penyajiannya menggunakan pincuk daun pisang bukan hanya untuk aroma khas, tapi juga sebagai penghormatan terhadap alam dan tradisi leluhur.

Warung Legendaris Nasi Liwet yang Menjadi Ikon

Kelegendarisan nasi liwet Solo juga didukung oleh warung-warung yang bertahan hingga kini, seperti:

Meski banyak warung baru bermunculan, sebagian penjual tetap mempertahankan cara tradisional, mulai dari memasak dengan kayu bakar hingga resep turun-temurun.

Tak heran jika nasi liwet digemari semua kalangan, termasuk bangsawan Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan Surakarta.

Nasi Liwet, Ikon Kuliner Kota Solo

Kini, nasi liwet bukan hanya favorit warga lokal, tetapi juga primadona wisatawan.

Dari warung pinggir jalan hingga restoran, gurihnya nasi liwet tetap memikat.

Sebagai bentuk pelestarian, pada 19 Juni 2022, nasi liwet resmi dikukuhkan sebagai ikon kuliner Kota Solo di Halaman Balaikota Surakarta.

Sejak saat itu, bisnis nasi liwet semakin menjamur di berbagai sudut kota.(mg2/np)

Editor : Nur Pramudito
#nasi liwet #kota budaya #wisatawan #legendaris #solo #asal mula #awal mula #kuliner #sejarah