RADARSOLO.COM – Berkunjung ke destinasi wisata Rowo Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Klaten tak lengkap tanpa membawa oleh-oleh khas. Salah satunya Bakpia Nyi Rakit yang kini jadi ikon Rowo Jombor.
Bakpia Nyi Rakit lahir dari tangan dingin seorang perantau bernama Janta yang merintis usaha sejak 2006.
Janta berhasil mengkonversi hobi memasaknya dengan melahirkan produk bakpia yang resepnya dipelajarinya secara otodidak.
Meski identik sebagai kuliner khas Yogyakarta, Janta membuktikan bakpia buatan asal Desa Krakitan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat dengan kualitas yang bersaing.
Hingga kini terdapat berbagai cita rasa yang diproduksinya. Seperti kacang hijau, ubi ungu hingga keju dengan menawarkan kombinasi manis dan gurih.
Janta menceritakan keahliannya membuat bakpia bermula dari masa-masa sulit saat ia merantau puluhan tahun lalu.
Bahkan setelah pulang ke kampung halaman dan melihat sempitnya lapangan pekerjaan, ia sempat mencari peruntungan di Yogyakarta.
Tepat di Kota Gudeg itu, ia bertemu rekan pemilik toko oleh-oleh yang kemudian memantapkan niatnya untuk memproduksi bakpia sendiri secara otodidak. Mengingat saat itu temannya mengambil produk bakpia dari pelaku UMKM sekitar Jogjakarta.
”Dari situ saya bertanya sama teman-teman, kenapa tidak bikin sendiri? Ternyata dikarenakan ada keterbatasan sehingga tidak bisa membuat (bakpia). Akhirnya saya inisiatif belajar dan dari hobi masak saya juga akhirnya ketemu resep. Itu 20 tahun yang lalu,” ujar Janta saat ditemui Radarsolo.com di rumah produksinya, Jumat (16/1/2026).
Lebih lanjut, dari keahliannya membuat bakpia itu, akhirnya Janta memasarkan ke relasi teman-temannya yang memiliki toko oleh-oleh.
Setelah sukses memasok toko-toko di Jogjakarta, Janta memutuskan pulang untuk membangun tanah kelahirannya.
Dia melihat potensi Rowo Jombor yang mulai dikembangkan pemerintah sebagai kawasan pariwisata, namun minim pilihan oleh-oleh khas.
”Akhirnya muncul Bakpia Nyi Rakit, dari situ. Itu khusus untuk Rowo Jombor dan Bayat lah umumnya itu,” ujarnya.
Penggunaan nama Nyi Rakit tidak bisa dipisahkan dari cerita legenda dari daerah Rowo Jombor.
Terlebih lagi saat ini juga menjadi nama taman di kawasan wisata pada waduk yang memiliki luas 180 hektare tersebut yakni Nyi Ageng Rakit.
Bakpia Nyi Rakit tersedia dalam tiga jenis dengan tekstur kulit basah, kering dan krispi.
Untuk rasa, meski kacang hijau tetap menjadi primadona, Janta terus berinovasi memanfaatkan hasil bumi sekitar seperti ubi ungu.
”Kita inovatif dengan menggali potensi-potensi sumber daya di sekitar itu apa? Kayak kita punya ubi ungu. Selama ini ubi ungu hanya olahan keripik atau gethuk. Justru dari situ saya olah ke modern. Jadi saya bikin bakpia ubi ungu,” jelas Janta. (ren/adi)
Editor : Adi Pras