RADARSOLO.COM-Selama ini olahan bebek identik dengan digoreng garing atau dimasak rica-rica pedas.
Lain halnya jika berkunjung ke Kabupaten Klaten. Tepatnya di Desa Kranggan, Kecamatan Polanharjo, bebek disulap menjadi hidangan opor yang menggugah selera.
Kuliner legendaris ini bahkan baru saja dirayakan dalam gelaran Festival Opor Bebek yang sukses menyedot perhatian ratusan pencinta kuliner pada pekan lalu.
Keunikan festival pekan lalu semakin terasa karena makanan disajikan menggunakan pincuk (daun pisang).
Bagi masyarakat Desa Kranggan, opor bebek bukan sekadar hidangan biasa, melainkan bagian dari tradisi.
Khususnya di RT 13 mayoritas penduduknya menyandarkan hidup dari usaha rumahan opor bebek dan ayam ungkep.
Kepala Desa Kranggan Gunawan Budi Utama menjelaskan, hidangan opor bebek sudah mengakar kuat sebagai menu wajib warga saat Lebaran.
"Kita ambil filosofi untuk makanan tradisionalnya. Jadi kalau pakai pincuk dengan pakai piring itu secara mood beda. Lebih enak ke pincuk," ujar Gunawan saat ditemui radarsolo.com beberapa waktu lalu.
Dalam festival tersebut, pihak desa menyediakan sedikitnya 600 porsi opor bebek secara gratis untuk para pengunjung.
Baca Juga: Sensasi Nasi Kebuli Iga Kambing, Kini Bisa Didapat di Karangmalang Sragen
Tercatat ada 14 UMKM lokal yang terlibat aktif.
Ke depan, Gunawan memproyeksikan pusat kuliner sebagai wadah bagi ke-14 UMKM tersebut untuk berjualan opor bebek setiap minggu.
"Harapan kami memang ini menjadi brand ataupun ikon kuliner yang ada di Kranggan, sekaligus untuk meningkatkan kaitannya sebagai pendukung destinasi wisata yang ada desa kami," tambahnya.
Salah satu pelaku usaha opor bebek asal Desa Kranggan Tyas, 53, membagikan rahasia dapur kelezatan opor buatannya.
Berbeda dengan warung modern yang mengandalkan panci presto, Tyas tetap mempertahankan cara tradisional, yakni memasak menggunakan kayu bakar.
"Prosesnya kita enggak pakai presto. Dimasak sekitar 3-4 jam sudah empuk. Lebih mantap lagi apalagi kalau kuahnya agak kental," kata Tyas.
Baca Juga: Kirab Bhinneka Gandekan Naik Kelas, Tonjolkan UMKM Lurik, Batik, Dan Kuliner
Untuk masalah harga, satu ekor opor bebek utuh dibanderol mulai dari Rp 130.000- Rp135.000, tergantung ukuran bebek.
Sementara bagi pengunjung yang ingin menikmati porsi personal, tersedia kemasan boks nasi seharga Rp25.000.
Sebagai pendamping setia, opor bebek ini biasa disajikan dengan lalapan segar seperti timun, kubis, kemangi, hingga oseng daun pepaya.
Kelezatan opor bebek Kranggan ini diakui langsung oleh Faqih, 36, seorang pengunjung asal Semarang yang baru pertama kali mencicipinya.
Sebagai penikmat kuliner, Faqih mengaku terkesan dengan tekstur dan keseimbangan rasa yang ditawarkan.
"Ekspektasi saya biasanya opor bebek itu sedikit encer dan bumbunya kuning. Tapi ini bumbunya lebih pekat dan meresap ke daging-dagingnya. Biasanya kan susah mengolah bebek supaya tidak amis, tapi ini kebetulan tidak amis dan sangat empuk," ungkap Faqih yang sedang dalam perjalanan dinas tersebut.
Ditambahkannya, rasa opor bebek Kranggan memiliki perpaduan gurih dan manis yang pas.
Baca Juga: Cerita Kuliner Wali Kota Solo: Dari Menu Wajib Lidah Sapi hingga Rahasia SBY Lahap Kambing Goreng
Tidak seperti olahan bebek bacem Klaten pada umumnya yang didominasi rasa manis pekat.
Ia pun berharap pemerintah desa hingga pemerintah kabupaten memberikan atensi lebih untuk terus menggiatkan potensi kuliner ini agar semakin dikenal luas oleh masyarakat di luar Klaten.(ren)
Editor : Tri Wahyu Cahyono