Kenapa Masakan Solo Cenderung Manis? Ternyata Ada Jejak Sejarah di Baliknya

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 14:56 WIB
Ada sejarah panjang, kondisi geografis, hingga budaya masyarakat Jawa yang ikut membentuk karakter rasa kuliner Solo seperti sekarang.
Ada sejarah panjang, kondisi geografis, hingga budaya masyarakat Jawa yang ikut membentuk karakter rasa kuliner Solo seperti sekarang.

RADARSOLO.COM - Gudeg, nasi liwet, serabi, timlo, hingga aneka jajanan pasar. Bicara soal kuliner Solo, satu hal yang sering langsung terlintas di benak banyak orang adalah rasanya yang cenderung manis.

Bagi orang yang baru pertama kali mencicipi masakan khas Solo, rasa manis dalam sejumlah hidangannya mungkin cukup mengejutkan. Bahkan, makanan yang seharusnya masuk kategori lauk atau hidangan utama pun kerap memiliki sentuhan rasa manis.

Lantas, kenapa masakan Solo identik dengan rasa manis?

Baca Juga: Bukan Cuma Mie Ayam, Ini Olahan Mie Khas dari Berbagai Negara ASEAN

Ternyata, kebiasaan tersebut bukan muncul begitu saja. Ada sejarah panjang, kondisi geografis, hingga budaya masyarakat Jawa yang ikut membentuk karakter rasa kuliner Solo seperti sekarang.

Salah satu alasannya berkaitan dengan melimpahnya produksi gula di Pulau Jawa pada masa lalu. Jawa, termasuk wilayah Jawa Tengah, sejak lama dikenal sebagai daerah penghasil tebu dan gula.

Gula kemudian menjadi bahan yang relatif mudah ditemukan dan digunakan dalam berbagai masakan masyarakat. Gula Jawa atau gula kelapa juga menjadi salah satu bahan penting dalam dapur tradisional.

Berbeda dengan garam yang pada masa tertentu harus didatangkan melalui jalur perdagangan dari wilayah pesisir, gula dapat diproduksi dari hasil pertanian yang berkembang di Pulau Jawa.

Baca Juga: Kopi Sudah Menjamur, Kini Giliran Teh Naik Daun? 9 Brand Milk Tea dan Artisan Tea yang Mulai Ramai

Ketersediaan bahan tersebut secara perlahan ikut memengaruhi cita rasa makanan masyarakat.

Namun, rasa manis dalam masakan Solo tidak hanya berkaitan dengan persoalan bahan makanan. Budaya keraton juga disebut memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kuliner di wilayah ini.

Solo merupakan salah satu pusat kebudayaan Jawa dan menjadi rumah bagi Keraton Kasunanan Surakarta serta Pura Mangkunegaran. Kehidupan masyarakat di sekitar pusat kerajaan tersebut turut membentuk berbagai tradisi, termasuk tradisi makan.

Dalam budaya Jawa, rasa manis sering dikaitkan dengan sifat alus atau halus. Masyarakat Jawa mengenal nilai kesantunan, kelembutan, dan keharmonisan yang kemudian turut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan.

Cita rasa makanan pun berkembang dengan karakter yang tidak terlalu tajam.

Jika sejumlah daerah di Indonesia dikenal dengan rasa pedas yang kuat atau bumbu yang tajam, masakan Solo cenderung menghadirkan perpaduan rasa yang lebih lembut. Manis, gurih, dan sedikit asin biasanya berpadu tanpa ada satu rasa yang terlalu mendominasi.

Baca Juga: Begini Perjalanan Dimsum, dari Rumah Teh di Tiongkok hingga Jadi Jajanan Favorit di Indonesia

Karakter tersebut bisa ditemukan dalam berbagai makanan khas Solo.

Nasi liwet, misalnya, memiliki rasa gurih dari santan yang berpadu dengan sayur labu dan areh. Beberapa lauk pendampingnya juga menggunakan kecap atau bumbu yang memiliki sentuhan manis.

Begitu pula dengan jajanan pasar Solo. Serabi, intip, jenang, hingga berbagai kudapan tradisional banyak menggunakan gula Jawa sebagai salah satu bahan utama.

Namun, tidak semua makanan khas Solo sebenarnya terasa manis.

Timlo, tengkleng, selat Solo, dan sate buntel memiliki karakter rasa yang berbeda-beda. Hanya saja, penggunaan kecap manis dan gula Jawa dalam sejumlah masakan membuat cita rasa manis menjadi salah satu identitas yang cukup kuat.

 

 

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
makanan manis solo gula sejarah