Thrift merupakan kata benda dalam bahasa Inggris yang berarti hemat atau irit dalam menggunakan barang. Sedangkan thrifting merupakan sebuah kegiatan berburu barang thrift yang dilakukan secara online (melalui sosial media dan situs e-commerce) atau bisa langsung pergi ke pasar pasar barang bekas.
Bisnis barang bekas memang sudah sangat lama eksis di masyarakat, namun akhir-akhir ini mulai banyak sekali bisnis thrift shop di Indonesia yang berkembang pesat, karena adanya dongkrakan dari para influencer atau tokoh publik di sosial media seperti instagram. Mereka tidak malu memposting bahwa pakaian yang mereka pakai merupakan barang bekas.
Namun, tren thrifting yang sedang populer dikalangan kaum muda kini mulai menimbulkan sejumlah keresahan. Beberapa waktu lalu, netizen jagat maya Twitter ramai membahas soal penetapan harga thrift shop yang ‘terlalu mahal’. Banyak yang mulai geram dan mempertanyakan esensi dari thrifting. Yang sebenarnya ditujukan sebagai alternatif untuk menghemat sekaligus untuk mengurangi angka konsumsi fast fashion yang semakin banyak dan banyak menghasilkan limbah tekstil perusak lingkungan dan juga untuk mereka yang tidak bisa membeli barang baru yang harganya tinggi.
Belum berhenti di situ saja, persoalan ini juga melibatkan mereka selaku penjual dan orang-orang yang merasa wajar jika harga barang hasil thrift itu bisa sampai berjuta-juta. Contohnya ada sebuah thrift shop yang menjual jaket yang merupakan produk ternama dengan kondisi bagus, namun bekas dengan harga 500 ribu rupiah yang sangat jauh dengan modal pasaran yang berkisar di angka puluhan ribu rupiah.
Zena seorang mahasiswa yang gemar memburu pakaian thrifting di pasar-pasar tradisional sejak lama mengatakan dirinya cukup kaget saat melihat harga pakaian yang biasanya ia beli semula harganya hanya kisaran puluhan ribu, kini bisa mencapai ratusan ribu rupiah. “Jujur kaget dan kecewa banget harganya jadi pada mahal. Ya menurut saya sekarang para pedagang tuh tau harga pakaian bekas yang ber merk dan yang enggak. Jadi mereka pasang harga yang mahal”.
Harga pakaian yang mahal juga dikeluhkan Anggi, seorang mahasiswa yang baru akhir-akhir ini gemar membeli pakaian thrifting secara online. “Yah enggak worth it sih. Sebenarnya sekarang kalo dibandingin harga baju thrifting dengan harga baju baru, harganya juga beda tipis. Jadi mending tuh beli yang baru karena kualitasnya pun masih bagus biarpun beda merk”.
Berbagai macam alasan dilontarkan seperti susahnya mencari barang karena langka, sesi foto yang aesthetic untuk pemasaran agar terlihat lebih menarik, barang yang dikirim sudah dilaundry dan dipacking dengan rapi, serta kualitas barang sangat mempengaruhi harga barang.
Memborong barang dari distributor kelas bawah dengan harga murah untuk kemudian dijual kembali dengan harga mahal adalah berbahaya dan tidak sopan. Dampaknya para pemasok pakaian-pakaian juga ikut menaikkan harga dan pembeli yang biasa membeli barang bekas langsung ke mereka menjadi kesulitan.
Muncul pertanyaan apakah thrifting sama dengan membeli barang vintage? Mengingat keduanya juga merupakan kegiatan membeli barang yang sudah lama diproduksi dan sudah pernah dipakai sebelumnya.
Barang vintage yang memang memiliki nilai jual tinggi tidak bisa disamaratakan dengan barang thrift. Meskipun keduanya tergolong barang bekas, namun nilai atau value yang dimiliki berbeda. Suatu barang dikategorikan vintage apabila bisa bertahan dan membentuk sub kulturnya sendiri serta memiliki penggemar.
Bukankah akan menjadi ironi dengan arti lagi tujuan awalnya thrifting itu sendiri? Apakah benar kita mewajarkan harga tinggi yang akan menutup akses sekelompok orang dengan gaji rendah untuk menikmati apa yang harusnya bisa mereka nikmati?
Alangkah baiknya untuk tidak mengambil profit yang sangat besar dalam menjalankan usaha thrift shop yang sedang ramai-ramainya di kalangan anak muda. Secara perlahan, upaya penyelamatan lingkungan yang memiliki prestige atau citra keren tersebut perlahan-lahan mengaburkan konsep thrift sebagai upaya penghematan.(Kartika/Ria) Editor : Syahaamah Fikria