Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mencoba Sensasi Thai Massage, Diiringi Musik, Tak Perlu Pakai Minyak

Damianus Bram • Minggu, 1 Agustus 2021 | 22:37 WIB
PATUT DICOBA: Pijat Thailand (Thai Massage) semakin populer di Indonesia. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
PATUT DICOBA: Pijat Thailand (Thai Massage) semakin populer di Indonesia. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)
BERAGAM cara dilakukan agar tubuh sehat. Mulai dari mengonsumsi makanan bergizi, olahraga, dan istirahat cukup. Selain itu, tubuh perlu direlaksasi, salah satunya dengan pijat.

Pijat memiliki beragam teknik dan fungsinya. Paling familiar pijat urut tradisional yang sudah jadi tradisi turun temurun. Ada pula pijat ala Thailand atau Thai Massage. Jenis pijat ini, kini makin populer di Indonesia beberapa waktu terakhir.

Pasangan suami istri Yuli Trisnanto,37, dan Mei Yuliana, 30 salah satu yang menekuni jasa pijat tradisional maupun Thai Massage di Sragen. Dengan pengalaman lebih dari 10 tahun, mereka mampu menguasai beberapa terapi.

Mei menyampaikan, pijat urut tradisional mengurut otot-otot menggunakan minyak, atau sering disebut teknik pijat basah. Dimulai dari kaki sampai tubuh bagian atas. Pada dasarnya fungsinya memaksimalkan jalannya peredaran darah. Selain itu otot tubuh lebih lentur. Demikian juga metabolisme meningkat dan imunitas tubuh terjaga.

Sementara Thai Massage lebih ke arah pijat kering. Atau bisa juga disebut teknik yoga yang dibantu. Terpengaruh teknik asal India yang biasa disebut Ayuverda. ”Pijat Thailand itu arahnya ke stretching atau bisa juga disebut relaksasi,” terangnya.

Selain itu ada penekanan-penekanan pada titik tertentu dengan jarak ditekuk-tekuk. Kemudian untuk refleksi ala Thai Foot Massage menggunakan alat semacam stick untuk pemijatan dari kayu. Fungsinya untuk menekan titik-titik refleksi.

Sedangkan efek dari pijat Thailand ini mengurangi keluhan di area pinggang dan area tulang belakang. Karena banyak stretching dan relaksasi, dapat mengurangi stres.

”Biasanya diiringi musik untuk relaksasi, gerakannya juga ditekan dengan lemah lembut. Mengurangi stres baik untuk yang dipijat maupun yang memijat,” jelasnya.

Mei menambahkan, pijat Thailand ini sudah berkembang pesat di negara Gajah Putih tersebut. Bahkan ada sekolah-sekolah yang memberi pelatihan untuk pijat. Salah satu tokoh pijat Indonesia Onny Arifin Yuwono dari lembaga pelatihan pijat sehat, belajar langsung ke Thailand dan dibawa ke Indonesia. Kemudian diajarkan pada para siswa pelatihan pijat di Indonesia.

”Kalau kami awalnya tidak lewat Youtube, atau Google. Guru kami langsung datang ke Thailand, belajar langsung di sana,” terangnya.

Mei menjelaskan pijat Thailand ini mulai masuk Indonesia awal 2000an. Dia sendiri mulai mempelajari sejak 2018. Sampai saat ini menjadi instruktur untuk pelatihan Thai Massage.

”Sebelumnya sudah tahu dari dari Youtube, tapi belum berani praktik karena prinsip kami belajar dulu, baru praktik ke costumer,” terangnya.

Pemijat juga ada wadah organisasi yang menampung. Seperti Perkumpulan Para Pemijat Penyehatan Indonesia (PAP3I). Selain itu ada pula lembaga sertifikasinya di Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) Pijat Tradisional Indonesia (PITRA). Mereka di bawah Kementerian Pendidikan bidang vokasi. Para siswa wajib mengikuti pembelajaran 200 jam.

”Di bidang pijat ada uji kompetensi,” jelasnya.

Sedangkan terapi pijat pada saat pandemi Covid-19 ini dilakukan antisipasi. Seperti pergantian alas sprei dan bantal selalu dilakukan. Tetap memakai masker dan menyemprot disinfektan. Selain itu juga mengurangi costumer. (din/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Uji Kompetensi Bidang Pijat #pijat ala Thailand #Sensasi Thai Massage #Thai Massage di Sragen