“Aku suka banget beli parfum. Koleksi parfumku bukan dari aromanya. Tapi dari bentuk botolnya. Botol parfum yang lucu dan unik pasti aku beli. Meskipun kadang-kadang aromanya tidak cocok sama seleraku, selama botolnya menarik pasti aku koleksi," ungkap Riza kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (10/8).
Lantaran sering mendapatkan parfum yang botolnya unik, tapi aromanya tidak cocok. Riza kemudian membayangkan alangkah menyenangkan bila punya koleksi parfum yang aroma dan bentuk botolnya sesuai seleranya. Nah, sejak 2020 lalu, Riza mantap berbisnis parfum. Tidak tanggung-tanggung, dia bahkan mengambil kursus meracik parfum selama dua minggu.
"Aku belajar meracik campuran parfum untuk menghasilkan aroma yang sesuai seleraku. Jadi sekarang aku bisa bikin parfumku sendiri. Botolnya lucu dan unik seperti yang aku koleksi selama ini," beber ibu satu anak ini.
Awalnya, bisnis parfumnya masih menjadi side job. Namun setelah dia melahirkan sang buah hati dan menjalani work from home (WFH), Riza merasa kewalahan mengelola bisnisnya. Akhirnya, Juni lalu, Riza memutuskan resign dan mulai fokus mengurus studio parfumnya yang berlokasi di Mendungan, Pabelan, Sukoharjo.
"Selama WFH itu sudah kepikiran ingin kerja sendiri, berbisnis. Karena masa pandemi seperti ini, suami juga khawatir kalau aku ketemu nasabah. Karena di rumah anak masih kecil," sambungnya.
Apakah sempat menyesal melepaskan karirnya sebagai bankir? Riza tegas menjawab, tidak. Dia mengaku sangat nyaman menjalani kehidupan sebagai peracik sekaligus pengusaha parfum. Meskipun tidak dipungkiri kegiatannya justru jauh lebih melelahkan ketimbang menjadi bankir.
"Ya capek, tapi kalau lihat banyak customer yang order, banyak reseller yang ambil barang, rasanya senang banget. Capeknya hilang," kata perempuan kelahiran 25 Juni 1988 ini.
Saat ini, Riza tengah disibukkan mengelola lebih dari 50 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia. Belum lagi orderan dari e-commerce. Ditambah customer yang datang langsung ke studio parfumnya. Dia senang antusiasme customer membeludak.
"Aku suka orang-orang pakai parfumku. Aromanya hampir sama seperti parfum mahal. Jadi, kenapa harus beli parfum mahal kalau ada parfum yang aromanya mirip dengan harga terjangkau dan packaging-nya tidak kalah menarik?" ujarnya. (aya/bun/dam) Editor : Damianus Bram