RUMAH kayu mungil di Jalan Blabak-Magelang, Bubakan, Jelok, Cepogo, Boyolali ini berdiri di lahan seluas 150 meter persegi. Sepintas sudah terlihat struktur bangunannya yang didominasi kayu. Ditempati tiga tahun terakhir, rumah terlihat masih kokoh. Tiap pagi dan sore, Sucipto biasa menikmati teh sembari melihat puncak Gunung Merapi yang terlihat dari teras rumahnya.
Desain rumah ini panggung setinggi 7 meter. Memadukan konsep vila dan Woloan, rumah adat asal Minahasa Sumatera Utara. Struktur bawah bangunan terpancang tiang kayu yang kokoh di tiap sisi sepanjang 3 meter. Tepat di kolong rumah, Sucipto memarkirkan mobilnya. Di tempat itu juga disediakan tempat duduk dan meja layaknya ruang tamu. Tujuannya untuk bersantai sekaligus berbincang ringan ketika tamu datang.
”Saya hobi beternak. Lalu dapat rekomendasi ke sini. Saya buat kandang ayam petelur sekaligus rumah mungil untuk menghabiskan masa tua,” ujar Sucipto saat ditemui di rumahnya.
Ada dua tangga di depan yang langsung terhubung dengan teras rumah. Begitu masuk, kita akan disajikan ruangan multifungsi. Ruang tamu tergabung dengan ruang tengah dan tempat berkumpul keluarga. Tak hanya itu, tersedia juga etalase barang dan dapur di sisi kiri. Lantai pertama rumah panggung ini setinggi 2,1 meter. Sedangkan lantai dua, difungsikan untuk kamar tamu dengan tinggi 3 meter.
”Saya rintis mulai tahun 2018. Saya yang bikin konsepnya, dibantu anak saya yang bekerja sebagai arsitektur. Baru saya cari tukang yang bisa menyediakan bahan dan membuatnya. Sampai Jepara dan di daerah lain di Pulau Jawa, ternyata tidak ada yang menyanggupi,” imbuh pensiunan perusahaan BUMN ini.
Sucipto lantas mencari referensi di Woloan, Sulawesi Utara. Akhirnya jadilah rumah impian itu. Bahan baku sampai pembuatan rumah kayu ini menghabiskan dana Rp 250 juta. Bahan dasarnya dari kayu ulin untuk kontruksi dasar hunian. Sedangkan dinding dan lantai setebal 2 sentimeter menggunakan kayu nyatoh. Pemasangan dinding kayu sangat rapat. Bahkan saat hujan, air tidak merembes. Atap rumah juga berbahan kayu dengan dilapisi seng bagian luar. Tujuannya agar tetap awet dan tidak mudah bocor.
Hampir 100 persen hunian berbahan dasar kayu, menghabiskan tiga perempat kontainer. Seluruh bahan dan pembuatannya dibuat oleh pemborong dari Woloan. Tak ayal, sruktur bangunannya mirip dengan rumah adat Woloan.
”Untuk kayunya tetap dipernis agar tidak mudah makan rayap. Untungnya, sudah 3 tahun masih awet. Untuk furniture, kami boyong dari rumah sebelumnya. Kalau lantai tetap kami lapisi stiker lantai agar lebih nyaman dengan luas lantai sekitar 80 meter. Jadi rumah ini dibikin nyaman sekalian menyalurkan hobi beternak,” tandasnya. (rgl/adi) Editor : Syahaamah Fikria