Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Telatennya Pengelolaan Kuda Khusus Perlombaan di Solo Equestrian

Damianus Bram • Minggu, 22 Agustus 2021 | 18:00 WIB
NURUT: Ahmad Tsalits Miftah Nurhani bersama kuda yang ada di stable Solo Equestrian. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
NURUT: Ahmad Tsalits Miftah Nurhani bersama kuda yang ada di stable Solo Equestrian. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
KUDA dikenal sebagai salah satu jenis satwa yang cukup dekat dengan manusia. Karena itulah tidak sedikit pula yang tertarik untuk memilikinya atau hanya sekadar ingin bisa menungganginya. Ternyata tak mudah untuk melakukannya.

Beragam jenis kuda umum kita jumpai. Selain kuda liar ataupun yang identik dipelihara manusia, ada juga jenis kuda yang biasa digunakan untuk olahraga berkuda.

Kuda tersebut, tentu perawatannya tidak sebarangan. Mengingat si kuda harus tampil prima, dan harus sudah paham gerakan apa yang diinginkan sang penunggangnya.

Salah satu lokasi tempat penyimpanan kuda (stable) yang ada di Solo, bernama Solo Equestrian. Beralamat di Jalan Agus Salim, No 3-5, Sondakan, Laweyan. Di sana ada beragam kuda yang khusus dilatih untuk olahraga berkuda.

Sesuai namanya yakni Equestrian, yang merupakan nama lain olahraga berkuda, jadi kuda-kuda ini memang dilatih sesuai sandar Olimpiade untuk cabang dressage (tunggang serasi, Red) dan show jumping (lompat rintang, Red). Tujuannya jelas untuk bisa ikut dalam sebuah kejuaraan.

“Saya mulai dari hobi berkuda, kemudian punya beberapa kuda. Akhirnya membuat stabel (kandang kuda) ini, bernama Solo Equestrian. Awalnya lokasi ada di Jogjakarta, karena pandemi saya pindah ke Solo. Persiapan lokasi mulai Februari 2021, dan baru siap semuanya setelah Lebaran kemarin,” jelas Owner Solo Equestrian Moh. Haekal B. Nahdi, kepada Jawa Pos Radar Solo, Jumat (13/8) sore.

Di stable miliknya ada sejumlah kuda yang biasa digunakan untuk latihan bertunggang. Tidak semua kuda merupakan milik Haekal sendiri. Ada beberapa diantaranya merupakan titipan dari beberapa pemilik, yang tidak memiliki tempat untuk merawat kuda.

Dilihat dari jenis-jenisnya, tak satu pun merupakan koda lokal. Yang ada hanya perkawinan silang antara kuda lokal dengan kuda import, atau murni perkawinan kuda import yang dikawinkan dan lahir di Indonesia.

“Di sini ada G2 satu, G3 satu, G4 satu, dan KPI (Kuda Pacu Indonesia). Saya juga punya crossbreed (hasil kawin silang jenis thoroughbred dan jenis warmblood, Red). Ada juga Warmblood Indonesia (kuda import berdarah hangat yang dikawinkan dan lahir di Indonesia, Red),” paparnya.

Haekal menjelaskan, penyebutan kuda G adalah istilah untuk kuda-kuda hasil silangan antara kuda lokal dan kuda jenis thoroughbred (kuda berdarah panas, Red) yang konon berasal dari Inggris. Hasil persilangan itu menghasilkan kuda G1 yang memiliki karakteristik 50 persen kuda lokal, dan 50 persen kuda thoroughbred.

Untuk kuda G2 merupakan hasil perkawinan kuda G1 dengan kuda thoroughbred. Kemudian untuk kuda G3 adalah perkawinan antara kuda G2 dengan kuda thoroughbred. Begitu seterusnya untuk G4, G5, dan G5 yang semuanya juga merupakan hasil silang anakan sebelumnya dengan kuda thoroughbred. Oleh sebab itu makin tinggi angkanya, makin dominan sifat, dan kondisi fisik yang mendekati kuda thoroughbred.

“Makin ke sini sifat, karakter, dan fisiknya makin dekat dengan kuda import. Tentu perawatan, pakan, dan lain-lainnya itu tidak boleh sembarangan,” ucap Haekal.

Semua kuda yang ada di Solo Equestrian tentu memiliki detail perawatan yang berbeda dengan kuda-kuda yang biasa kita lihat di pinggir jalan, yang biasa dijadikan wahana wisatawan untuk jalan-jalan di sebuah lokasi wisata. Baik dari segi pakan, perawatan, pelatihan, hingga segi kandang. Ini disebabkan karena peruntukan kuda-kuda seperti ini hanya untuk berkompetisi dan untuk kegiatan berkuda saja. Jadi bukan untuk yang lain, seperti menarik gerobak, atau penumpang seperti kuda-kuda di daerah wisata pada umumnya.

“Satu ekor kuda bisa menghabiskan 6 kg pelet (merek tertentu yang kaya vitamin, Red) dalam sehari. Kemudian masih dipadukan dengan Red Mill (makanan tambahan untuk meningkatkan tenaga si kuda, Red). Dan yang tidak boleh kelewatan tiap hari harus diberi rumput. Biasanya kami pakai rumput yang teksturnya halus dengan kadar air rendah (rumput kering),” papar Ahmad Tsalits Miftah Nurhani, manajer stable di Solo Equestrian.

Untuk pola dan waktu pemberian pakan di Solo Equestrian mengacu pada standar pemberian makan kuda yang dipertandingkan di cabang equestrian. Dengan merujuk ketentuan itu, kuda-kuda yang ada diharapkan memiliki performa yang maksimal saat nanti mengikuti berbagai kompetisi dalam sub spesialis cabang tunggang yang berbeda.

“Untuk takaran dan waktu pemberian makan bisa menyesuaikan. Takaran sebanyak itu semata-mata menyesuaikan kebutuhan dan peruntukannya saja. Kemudian pola pemberian makan si kuda kami memilih menyesuaikan pola-pola makan seperti di Eropa sana. Jadi keseluruhan pakan dalam sehari itu kami berikan dalam waktu berbeda. Misalnya pagi 2 kg pelet dan setengah gelas air mineral Red Mill, nanti siang dan malamnya seperti itu lagi. Nah dijedanya diselingi dengan konsumsi rumput. Kalau untuk tambahan vitamin lain sudah tidak perlu karena sudah terkaver dari makanannya. Paling tambahan kalau dehidrasi (cairan isotonik) takarannya 2 botol ukuran 1,5 liter,” jelasnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah faktor kesehatan si kuda. Meski memiliki fisik yang kuat dan cenderung tidak berpengaruh dengan luka fisik dan patah tulang, ada satu penyakit yang cukup rawan dan berpotensi mempersingkat usia si kuda tunggang. Penyakit kembung masih menjadi momok utama yang  bisa membunuh si kuda jika telat penanganan.

“Kuda itu sebetulnya tahan dengan sakit bagian luar seperti lecet bahkan sampai patah tulang. Sayangnya dia (kuda, Red) rawan dengan  penyakit dalam. Salah satunya ya penyakit kembung itu. Kalau sampai seperti itu diberi obat maag dan langsung diminumkan (dengan alat, Red) ke mulut si kuda. Tapi jika sudah agak parah harus diinfus dengan cairan RL (larutan Ringer Laktat, Red),” terang Miftah.

Untuk urusan kandang, sambung dia, idealnya ukuran kandang tidak lebih kecil dari 3x4 meter persegi. Bagian kandang harus disertai dengan pintu dan jendela (dengan tralis, Red) agar si kuda tidak celingukan saat melihat kuda betina. Selanjutnya agar si kuda lebih nyaman perlu diberikan serbuk kayu agar bagian alas dari kandang tidak terlalu keras.

“Kalau kandangnya nyaman kuda ini akan betah, bahkan bisa sampai rebahan di dalam kandang saat tidur. Nah model tidur berdiri atau rebahan ini bisa dianggap sebagai indikator nyaman tidaknya si kuda dengan kandangnya,” hemat dia.

Kuda-kuda ras luar negeri dengan harga ratusan juta bahkan miliaran itu tentu tak bisa dimiliki setiap orang. Namun jika suatu saat kalian bisa memiliki rezeki lebih, akan lebih baik jika mencari kuda yang usianya tidak lebih dari lima tahun. Usia ini terbilang ideal untuk dilatih dan memulai proses kedekatan dengan si pemilik. Dengan begitu proses latihan tunggang maupun pacu akan lebih mudah dilakukan. Tapi jika kalian merasa membeli kuda adalah hal yang cukup sulit diwujudkan, kalian bisa belajar menunggang kuda di stabel-stabel yang ada, seperti di Solo Equestrian ini.

“Proses melatih kuda untuk bisa itu sebetulnya cukup panjang, namun rata-rata mulai dilatih di usia 4 tahunan. Nah nanti latihannya bervariasi, ada latihan berlari dengan ritme, kemudian latihan lari melingkar, latihan lari dengan rintangan, dan latihan lompat. Kalau tips untuk pemula, kuncinya harus berani. Setelah itu mulai mengenal karakteristik si kuda dan mulai melakukan pendekatan. Kalau sudah bisa baru mulai tahapan latihan yang sudah dijadwalkan,” kata Miftah. (ves/nik) Editor : Damianus Bram
#Penyimpanan Kuda di Solo #Kuda Balap #Kuda di Solo Equestrian #Kandang Kuda di Solo #Solo Equestrian