Tiara Sashita Arla mulai rutin waxing bulu halus di tangan dan kakinya sejak 4 tahun lalu. Tiap dua bulan sekali, dia meluangkan waktunya berkunjung ke salon waxing. Kegiatan ini sudah jadi kebiasaan baginya.
”Kalau berbulu sedikit rasanya risih. Kan kalau sudah rajin waxing, bulunya numbuh jadi makin halus terus tipis,” ungkap Tiara kepada Jawa Pos Radar Solo.
Satu-satunya alasan Tiara hobi waxing adalah agar kulit tangan dan kakinya bersih dari bulu-bulu halus. Terlebih sebagai pegawai BUMN di ibu kota, dia sering berinteraksi dengan berbagai orang penting. Alhasil, penampilan harus jadi prioritas utama.
”Aku saja nggak tahan, risih, lihat tangan sama kaki sendiri berbulu. Apalagi orang lain. Terlebih aku sering pakai rok saat bekerja. Jadi orang-orang yang biasanya lihat kakiku mulus, jadi agak tidak sedap dipandang kalau telat waxing,” beber mantan Putra Putri Solo 2012 ini.
Bicara soal telat waxing, Tiara pernah mengalaminya saat pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Saat itu, salon waxing langganannya tutup dan tidak ada pemberitahuan kapan dibuka kembali. Lalu apa yang dilakukan Tiara?
”Ya mau enggak mau didiemin aja. Ditahan-tahan sampai tempat waxing buka. Aku enggak berani sih waxing sendiri. Kebetulan kulitku sensitif, jadi takut kalau malah jadi kenapa-kenapa,” ujarnya.
Tiara mengaku treatment terhadap kulitnya susah-susah gampang. Salah pemakaian gel wax, kulitnya bisa gatal-gatal. Pengalaman buruk itulah yang membuat Tiara memilih waxing oleh petugas profesional. Bahkan saat PSBB, Tiara sampai harus memanggil petugas waxing untuk layanan home care.
”Nah, kalau sama petugas profesional, sebelum waxing kita diminta tanda tangan persetujuan. Seperti informed consent di rumah sakit. Soalnya kan takutnya kulit sensitif jadi merah atau gatal after waxing,” sambungnya.
Dokter asal Kota Bengawan Hanifiya Samha Wardhani menjelaskan, waxing di kulit tangan dan kaki aman dilakukan. Asal harus memperhatikan beberapa hal. Sebut saja, higienitas saat proses waxing sampai bahan-bahan yang digunakan. Misalnya, penggunaan krim retinoid. Ini bisa membuat iritasi dan kulit mengelupas. Bahkan sampai melepuh parah.
”Karena sebenarnya fungsi rambut-rambut di tangan dan kaki kan bisa untuk mengatur suhu tubuh, mempertajam respons sensor saraf seperti sentuhan, panas, dingin, nyeri, dan lain sebagainya. Sekaligus mengurangi gesekan dan pelindung dari berbagai bakteri,” paparnya.
Tidak semua orang bisa melakukan waxing. Dokter Hanifiya menyebut orang dengan iritasi kulit, luka terbuka, luka bakar, pengidap penyakit kulit seperti eksim, psoriasis, dan penyakit autoimun seperti lupus, tidak disarankan waxing.
”Ibu hamil juga tidak boleh. Karena kulitnya jadi sensitif,” tandasnya. (aya/adi/dam) Editor : Damianus Bram