Karakternya jinak, mudah dirawat, dan gampang diternak. Itulah kadal yang memiliki nama latin Eublepharis Macularius. Saat ini makin digemari di kalangan pecinta reptil.
Pecinta reptil, Eka Nur Arifi, 24 mengungkapkan, Leopard Gecko salah satu reptil yang paling dicari beberapa tahun terakhir. Keindahan corak dan warna hewan vertebrata berdarah dingin itu yang bikin memukau.
”Kesukaan saya pada reptil dimulai dari Iguana. Namun setelah lihat expo reptil di salah satu mal saya langsung suka sama Leopard Gecko ini. Akhirnya mulai baca-baca dan cari tahu sampai akhirnya memelihara sepasang Leopard Gecko tahun 2019 lalu,” jelas Eka ditemui di rumahnya di Kampung Minapadi RT 02 RW 09 Nusukan, Banjarsari.
Sejak 2019 lalu, dia mulai memelihara sepasang Leopard Gecko hingga deasa. Lalu dikawinkan. Pola mengkawinkan antara satu gecko dengan gecko lain berbeda corak dan warna ini lumrah di kalangan pecinta reptile. Dari sanalah pembiakan selektif itu dimulai untuk memunculkan varian-varian baru.
”Dari sepasang itu kemudian menetaskan beberapa anakan. Ternyata yang berminat banyak juga dan untungnya lumayan. Akhirnya saya tambah seekor jantan lagi dan beberapa betina. Dari sana fokusnya tidak hanya pelihara tapi juga ternak,” papar dia.
Memelihara Leoprad Gecko bukanlah hal yang sulit. Sifatnya yang jinak memudahkan reptil jenis ini bisa dipelihara siapa saja. Sementara sifatnya yang merupakan hewan nocturnal membuat si gecko tak perlu dijemur di bawah sinar matahari.
”Biasanya kalau pelihara reptil itu kan harus rutin menjemur, nah gecko ini tidak perlu. Dia ini cenderung menghindari sinar matahari dan aktif saat malah, makanya tak perlu dijemur. Oh iya, juga tidak perlu dimandikan jadi lebih gampang perawatannya,” jelas Arifin.
Kini, dia mengoleksi 20 ekor gecko. Tak butuh kandang yang luas, menyesuaikan kebutuhan. Jika ingin dipakai untuk display, disimpan di cage seperti akuarium khusus reptile. Tapi kalau kebutuhannya untuk ternak, lebih baik ditempatkan di wadah ukuran 20x15x20 sentimeter.
Yang perlu diperhatikan adalah kebersihan kandang si gecko, terutama dari kotorannya. Selain itu sangat disarankan memberikan dolomit. Yakni bubuk yang biasa digunakan untuk alas kandang Leopard Gecko sekaligus tambahan kalsium. Selain dolomit, ada baiknya jika kandang dipastikan tidak lembab dan dilengkapi dengan wadah air minum untuk si geko.
”Isi kandangnya paling ya dolomit itu, terus jangan lupa dilengkapi tempat untuk air minum. Jangan lupa membersihkan kandang dari kotoran si geckonya,” papar Arifin.
Reptil jenis ini cukup rawan terpapar penyakit Kripto (penyakit pencernaan, Red). Ini perlu menjadi perhatian, mengingat penyakit itu belum ada obatnya hingga saat ini.
”Kripto ini biasanya disebabkan dari makanan. Makanan gecko ini biasanya serangga seperti jangkrik, kecoa dubia, atau ulat hinggong, jadi memang harus hati-hati jangan sampai memberikan pakan hidup itu saat ada banyak kotoran di kandang karena kadang pakan hidup itu juga bisa memakan kotoran dari si gecko. Nah proses makanan hidup yang memakan kotoran si gecko ini biasanya yang jadi penyebab munculnya penyakit kripto,” jelas dia.
Soal pakan, seekor Leopard Gecko biasanya menghabiskan 5-8 ekor jangkrik dalam sekali makan, dilakukan tiga kali dalam sepekan.
”Untuk pakan biasanya jangkrik, yang perlu diperhatikan jangkriknya harus yang masih muda. Jangan yang sudah keluar sayapnya. Alternatif pakan lainnya bisa kecoa dubia atau ulat hongkong. Tapi paling disarankan dengan pakan jangkrik karena melatih keaktifan dan membuat mudah kenyang,” beber Arifin.
Untuk seekor anakan dengan pola normal dibanderol dengan harga Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribuan. Sementara yang premium bisa lebih dari Rp 500 ribuan. Kemudian untuk dewasa dengan pola normal diban derol seharga Rp 150-200 ribuan, sementara dewasa kelas premium bisa sampai jutaan rupiah. Inilah alasan mengapa si Leopard Gecko menjadi salah satu primadona di kalangan pecinta reptil. (ves/adi/dam) Editor : Damianus Bram