Cara kerja pengobatan alternatif ini seperti vakum. Alat berbentuk cawan akan menghisap lapisan kulit dan lemak serta otot. Cawan yang digunakan untuk terapi bekam biasanya terbuat dari gelas, plastik, dan silikon.
Setidaknya ada dua jenis bekam yang jamak dilakukan dalam terapi, yakni bekam kering dan basah. Bekam kering, tekniknya dengan api. Api yang ditutup cawan menghasilkan ruang hampa udara yang akan menyedot kulit dan otot serta lapisan lemak di bawah kulit.
Kemudian, bekam basah dilakukan dengan menusuk atau membuat sayatan kecil pada kulit. Setelah itu, cawan kembali ditempatkan di atas permukaan kulit yang ditusuk atau disayat tersebut untuk mengeluarkan sejumlah darah.
“Kalau sayak menggunakan teknik bekam basah. Bekam di sini digunakan sebagai pelengkap terapi. Seperti stroke, saraf kejepit dan lain sebagainya," ungkap Ali yang sudah praktik bekam selama 10 tahun ini di Gayam, Sukoharjo.
Pria kelahiran Jakarta 1983 ini mengatakan, bekam masuk dalam passive exercise. Artinya bukan terapi utama, melainkan hanya sebagai pelengkap saja. Kata dia, bekam membutuhkan waktu 30 sampai 45 menit dengan titik bekam 11 sampai 17 titik baik dipunggung, lengan, dada maupun bagian kepala. Namun, bagian punggung, leher, dan bahu merupakan tempat-tempat yang paling sering dilakukan terapi bekam. Tentunya disesuaikan dengan penyakitnya.
"Biayanya juga relatif terjangkau, Rp 80 sampai Rp 100 ribu. Itupun sebagian besar digunakan untuk sterilisasi, seperti alkohol, sarung tangan. Jasanya terjangkau. Kalau tidak punya uang seikhlasnya,” ungkapnya.
Sebelum melakukan bekam, pasien tetap dilakukan skrining, seperti cek tekanan darah. Kadang dilakukan dalam dua sesi bagi beberapa keluhan penyakit. Hal ini tergantung dari hasil skrining, usia, dan jenis penyakitnya. Pasien mulai 17 ke atas sampai lansia dengan permukaan kulit yang masih kuat dan kencang.
"Terapi bekam butuh proses, tidak sekali selesai. Biasanya empat sampai lima kali. Bekam saja tidak menyembuhkan semua penyakit, harus ada terapi lain," ungkapnya.
Bahkan, kini tidak hanya kalangan tertentu, namun para pejabat pun ada yang melakukan terapi bekam ini. "Yang pernah saya bekam, ada kapolres, kepala dinas, dan lurah. Masyarakat biasa juga banyak. Dari berbagai kota. Bahkan ada yang menginap, karena perjalanan jauh. Menginap di kos-kos sekitar klinik," ujarnya. (kwl/bun/dam)
Editor : Damianus Bram