Platycerium punya 18 spesies, tujuh di antaranya di Indonesia. Mulai dari Platycerium Wandae dari Papua, Platycerium Ridleyi dari Kalimantan, Platycerium Coronarium dari Sumatera, Platycerium Wilinkii dari Jawa dan Bali, Platycerium Bifurcatun dari Jawa, Platycerium Hilli dari Sumatera, dan Platycerium Grande dari Sulawesi. Nah, yang sering ditemui di Kota Bengawan hanya spesies Platycerium Ridleyi, Platycerium Wilinkii, Platycerium Wandae, dan Platycerium Coronarium.
”Lumayan langka di Solo. Saya biasa lihat platycerium tertentu saja. Seperti Ridleyi, Wilinkii, Wandae, dan Coronarium. Padahal ada banyak banget spesies platycerium. Ada yang hybrid juga. Tapi di Solo juga belum ada yang hybrid,” ungkap pecintah tanaman, Erin Suryaning Tias kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (9/10).
Memang tidak semua pecinta tanaman memiliki tanaman eksotis ini. Hanya kolektor yang mengumpulkan berbagai spesies platycerium. Itu pun diakui Erin tidak semua kolektor di Solo punya tanaman ini. Mayoritas kolektor platycerium berada di Pulau Dewata.
”Biasanya saya ke Bali dulu untuk cari berbagai spesies platycerium. Khususnya yang hybrid. Jenis hybrid ini platycerium yang sudah disilangkan di Thailand. Tapi di Indonesia belum ada yang bisa hybrid. Kalau hybrid, harganya mahal. Anakannya saja bisa sampai Rp 1,5 juta,” bebernya.
Soal perawatan, Erin mengklaim tanaman yang bisa digantung di teras atau diikat di pohon ini sangat mudah. Sebab Indonesia beriklim tropis. Sangat cocok dengan karakter tanaman platycerium. Penyiramannya cukup sehari sekali. Pemupukan dekastar juga hanya enam bulan sekali.
”Jadi biaya perawatannya juga terjangkau. Karena platycerium ini tanaman epifit yang tidak terlalu butuh banyak vitamin. Hanya disiram saja dan dapat cukup cahaya,” sambungnya.
Nah, ada trik merawat platycerium. Erin menyebut penyiraman dilakukan dari atas langsung terkena akar. Dua kali sehari jika cuaca terik. Minimal sehari sekali. Sebab, terkadang cara penyiraman yang salah akan membuat platycerium kering dan mati.
Sedangkan untuk repotting, bisa diletakkan di papan pakis atau slice wood. Bisa juga diletakkan di drainage cells. Kemudian di bagian belakang akar diberi sedikit moss. Jika baru saja merawat tanaman ini jangan dipindah media atau papan terlebih dahulu agar tidak stres.
”Biar warnanya tetap hijau, platycerium bisa dijemur di pagi hari. Karena platycerium habitatnya di bawah pohon, di hutan hujan tropis, jadi penyinaran yang cukup,” imbuhnya.
Platycerium termasuk tanaman yang jarang bermasalah dengan hama. Asal penyiramannya tepat. Tapi biasanya hama yang menyerang adalah kutu putih atau jamur. Solusinya, bisa disemprot neem oil spray atau antracol untuk jamur.
”Kalau platycerium hybrid, treatment-nya juga sama saja. Gampang. Asal jangan banyak dipupuk saja malah lebih subur,” tandasnya. (aya/adi/dam) Editor : Damianus Bram