"Menjadi langganan juara butuh proses panjang. Mulai dari perawatan, penanganan, hingga asupan gizi," terang Fariz Krismunanda, keeper satwa di Repilles Solo, Jumat (22/10).
Rutinitas yang tak boleh terlewatkan adalah menjemur iguana untuk membantu menjaga pencernaannya. Soal kandang, Fariz tak pelit berbagi tips, yakni menggunakan aquarium atau container box. Ketika ingin lebih praktis, bisa memakai kandang jeruji.
“Kalau pakai kandang jeruji, ya harus rutin mengecek kondisi iguana. Karena rawan terjadi patah kuku, patah jari, atau ekor terjepit. Yang lebih aman ya container box. Kuncinya rutin membersihkan kandang," ungkapnya.
Kandang yang terjaga kebersihannya, lanjut Fariz, dapat mencegah munculnya jamur dan penyakit pencernaan. Jamur bisa merusak kulit bahkan daging iguana.
Yang lebih bahaya adalah penyakit pencernaan. Meskipun sudah diberi obat, hasilnya tidak selalu sesuai harapan. “Urusan pakan tidak ribet. Karena hewan herbivora, pakannya dari tumbuh-tumbuhan segar. Antara lain kangkung, sawi, daun ketela rambat, pisang, pepaya, atau melon. Misalnya pakai sawi, takaran untuk baby cukup dua helai daun. Kalau dewasa cukup seikat saja untuk menghindari obesitas," beber Fariz.
Terkait kontes iguana, tolok ukur penilaian adalah keindahan dan kesehatan si iguana. Keindahan meliputi aspek spike (jambul atas), warna, motif, serta bentuk tubuh proporsional. Sedangkan kesehatan diukur dari kemulusan kulit. Pastikan tidak ada luka dan sebagainya.
Sudah berapa kali Ratjoen memenangkan kontes? Fariz menyebut empat kali pada tahun ini. Begitu juga Momogi.
Bagi kalian yang berminat memelihara iguana, ukuran baby iguana hijau dibanderol sekitar Rp 250 ribu, sedangkan keturunan jawara kontes, sekitar Rp 1 juta.
“Makanya, harga iguana yang sudah sering juara tak bisa diukur. Momogi dengan umur satu tahun Panjang 80 sentimeter banyak yang berminat di angka Rp 13 juta. Tapi nggak dijual,” terangnya. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram