Alligator snapping turtle (AST) tersebut menjadi saksi perjalanan hidup si majikan dari awal menikah hingga punya dua buah hati.
Kedatangan Jawa Pos Radar Solo di rumah Pandu Kampung Balong Baru, RT 05 RW 18, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Banjarsari disambut beragam satwa. Dari kura-kura, hingga iguana.
Dari aneka satwa itu, ada satu yang dianggap sudah menjadi bagian dari keluarga Pandu. Ya, si Alli. “Dipelihara sejak saya masih pacarana sama istri, hingga punya dua anak. Yang satu berusia sepuluh tahun, adiknya dua tahun,” terangnya.
Ketertarikan Pandu terhadap kura-kura aligator itu berawal dari sebuah toko ikan yang menjual si Alli kecil. Setelah membulatkan hati, Pandu mengumpulkan uang untuk membelinya. “Waktu itu saya beli Rp 750 ribu. Sekarang harga anakannya, kalau pun ada yang jual, bisa mencapai Rp 1,7 juta," terang Pandu.
Alasan memelihara AST, imbuhnya, karena keunikan saat mencari mangsa. Lidahnya ada semacam daging yang bentuknya mirip cacing. Berfungsi menarik perhatian ikan untuk masuk mulutnya.
Selain itu, bentuk fisik si Alli berbeda dengan kura-kura lainnya. Menyerupai kura-kura purba. Mulai dari bentuk kepala, moncong, tempurung, sampai ekornya. Kelebihan lainnya, si Alli berusia panjang.
Dalam memelihara Si Alli, Pandu tidak mencampurnya dengan satwa lain. Mengingat hewat karnivora ini cukup beringas. "Kalau memeliharanya di kolam yang luas, dicampur satwa lainnya tidak masalah. Tapi kalai lahannya sempit, bisa saling menyerang,” bebernya.
Soal pakan, si Alli tak pilih-pilih. Asalkan daging, langsung dilahap. Pandu biasa memberi lele atau kepala ayam potong. Satu kilogram kepala ayam potong cukup untuk satu bulan.
Saat memberi makan si Alli harus ekstrahati-hati. Karena rahang mulutnya mampu meremukkan batang bambu. Kondisi fisik yang kuat, juga memudahkan merawat si Alli.
"Kebetulan saya tidak pernah melakukan perawatan khusus. Tidak pernah saya jemur, tapi tidak pernah sakit. Daya tahan tubuhnya kuat. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram