Kali pertama membeli derkuku, Agung Suyono menjadi suara burung itu sebagai terapi penyembuhan bagi sang ayah yang sedang sakit.
“Suara anggungannya itu bikin tenang. Bisa membantu penyembuhan. Mendengar suara anggungan kuk..gerukkk...serasa kembali di suasana desa yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Kampung Joyoraharjan RT 02 RW 10 Purwodiningratan, Jebres.
Seiring berjalannya waktu, Agung jatuh hati dengan tekukur yang juga disebut membawa hoki. Dia akhirnya belajar lebih mendalam dan mengenal beragam tekukur. Ternyata, warna bulunya juga variative. Mulai dari putih, creamino, merah, leopard, blorok, dan sebagainya.
Agung lalu membeli beberapa pasang tekukur untuk dikembangbiakkan. “Tekukur biasa harganya Rp 50 ribu per ekor. Untuk yang warna, paling tejangkau sekitar Rp 1,5 juta. Kebetulan saya baru punya merah kalung hitam dan blorok. Harga jenis ini paling ramah di kantong. Yang langka bisa sampai Rp 40 juta per ekor,” beber dia.
Dari usaha menyilangkan tekukur, Agung berharap bisa mendapatkan varian baru warna bulu. Yang paling ditunggu adalah bisa memunculkan tekukur jambul. “Pasti bakal dicari-cari sama penggemar tekukur,” ucapnya.
Tekukur bisa dipelihara di kandang berukuran minimal 30x60 sentimeter. Tidak harus ditempatkan di luar rumah dan terkena sinar matahari langsung, yang penting sirkulasinya harus baik. Lengkapi kandang dengan tangkringan, tempat makan dan minum.
Untuk pakan, Agung tidak saklek, karena banyak pilihannya. “Pakan ini soal selera. Saya biasanya pakai campuran jagung menir, beras merah, dan pur. Extrafood-nya, saya beri milet, ketan hitam, kacang hijau. Termasuk memberikan vitamin yang dicampurkan ke minumang,” bebernya.
Tak kalah pentingnya adalah mencegah tekukur terserang penyakit. Terutama saat perubahan cuaca ekstrem. Salah satunya adanya virus tetelo. Hal itu bisa diatasi dengan memastikan kebersihan kendang serta pemberian vaksin. (mg3/ves) Editor : Damianus Bram