Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Modifikasi Dapur agar Betah Memasak, Pastikan Furniture yang Aman

Damianus Bram • Sabtu, 5 Maret 2022 | 17:00 WIB
NYAMAN: Dapur rumah yang nyaman dapat menjadi healing di tengah kesibukan. (INTERARCH.ID FOR RADAR SOLO)
NYAMAN: Dapur rumah yang nyaman dapat menjadi healing di tengah kesibukan. (INTERARCH.ID FOR RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Bagi sebagian orang, dapur menjadi tempat paling nyaman untuk me time selain kamar tidur. Aktivitas memasak bisa menjadi healing usai sepekan penuh berkutat dengan padatnya kegiatan pekerjaan. Nah, untuk membuat dapur yang nyaman, wajib memperhatikan ergonomi furnitur yang sesuai standar.

Lokasi dapur dalam hunian biasanya berada di belakang. Alias tidak terekspos terlalu sering atau bahkan jarang dilewati penghuni rumah. Namun, merancang dapur dilarang sembarangan. Wajib memastikan setiap elemen di dapur sesuai standar ukuran ergonomi manusia. Tujuannya, melindungi penghuni rumah dari cedera yang berbahaya untuk kesehatan jangka panjang.

”Ambil contoh, meja untuk memasak tidak boleh lebih tinggi dari meja cuci. Kalau misalnya dibuat tingginya sama dengan meja cuci, maka nanti yang terjadi adalah orang yang memasak akan cepat lelah. Karena tangannya akan terlalu terangkat ke atas. Itulah pentingnya pembuatan produk yang harus disesuaikan standar,” ungkap desainer interior dan arsitektur Solo Zia Ghifari kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (4/3).

Standarnya, area cuci piring ketinggiannya sekitar 70-80 sentimeter. Sedangkan untuk area masak setinggi 55-65 sentimeter. Ini jadi poin penting membuat dapur yang nyaman. Di samping tetap memperhatikan bentuk, luas ruangan yang bakal dijadikan dapur, dan ketersediaan ventilasi udara.

”Faktor ventilasi itu juga penting. Karena dapur ini area panas. Ada kegiatan yang cukup padat di satu area yang biasanya tidak terlalu luas. Sehingga ventilasi penting untuk menjaga sirkulasi udara di dapur. Agar tidak panas, tidak gerah, dan tidak terlalu lembab,” sambungnya.

Biasanya, ventilasi di dapur menggunakan bukaan jendela sebagai ventilasi alami. Bisa juga ventilasi berupa pintu atau lubang yang mengarah ke taman. Zia menyebut ventilasi semacam itu sudah cukup menjadi salah satu media penghawaan pada area dapur. Namun, jika letak dapur agak jauh dari area bukaan terbuka yang alami, disarankan memakai exhaust fan atau cooker hood.

”Sehingga menjaga sirkulasi udara lebih baik. Kalau kita memakai cooker hood, nanti asap yang dihasilkan saat memasak di area dapur bisa langsung terserap dan terbuang. Jadi tidak terjadi penggumpalan udara yang tidak baik di area dapur,” imbuhnya.

Beralih ke kitchen set, Zia memastikan tidak harus memiliki dapur yang longgar untuk bisa menggunakan kitchen set. Saat ini, kitchen set bisa mengakomodasi berbagai luasan dan bentuk ruangan. Artinya, proses pembuatan furnitur di dapur bisa mengikuti luas, bentuk, dan elevasi ruangan. Alhasil kitchen set bisa digunakan untuk dapur yang sempit sekali pun.

”Tapi tetap dipertimbangkan terkait desainnya. Bagaimana caranya supaya desain kitchen set tidak terkesan sumpek atau malah menyempitkan ruang. Sehingga kita bisa membuat konsep minimalis atau lebih simpel. Fokusnya mengutamakan fungsi,” ujarnya.

Jika luasan dapur sempit tapi ingin membuat kitchen set, maka style desain yang ditampilkan paling cocok adalah modern minimalis. Sebaliknya, style desain klasik sangat tidak disarankan untuk area sempit. Sebab ukiran atau elemen estetik lain yang ditambahkan ke dalam suatu produk bisa menimbulkan kesan penuh dan sempit.

”Jatuhnya malah tidak menunjang fungsi atau kenyamanan dapur atau ruangan tersebut,” tandasnya. (aya/adi/dam) Editor : Damianus Bram
#Desain Interior dan Arsitektur #Pastikan Furniture Aman #Kitchen Set #Ventilasi di Dapur #Modifikasi Dapur