Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Savmon, Biawak Gurun Jinak: Kepala Seperti Dinosaurus, Sulit Dibudidayakan

Damianus Bram • Minggu, 29 Mei 2022 | 20:00 WIB
MASIH JARANG: Savannah monitor diminati pecinta reptil karena sifatnya yang jinak. Satwa ini memiliki habitat asli di gurun. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
MASIH JARANG: Savannah monitor diminati pecinta reptil karena sifatnya yang jinak. Satwa ini memiliki habitat asli di gurun. (M. IHSAN/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Savannah monitor (savmon) memiliki karakter lebih ramah dibandingkan kerabat dekatnya varanus salvator. Itu yang membuat pecinta reptil menggandrunginya. Ditambah perawatannya yang mudah.

“Reptil ini sejenis biawak. Masih kerabat dekatnya. Bedanya, biawak di sini hidup di sekitar aliran air, kalau savmon di gurun. Walau sama-sama biawak, yang paling membedakan ini adalah karakternya. Savmon lebih jinak dan ramah," terang Muchlis Fitrianto, salah seorang pecinta Savmon.

Karena habitannya di gurun, savmon yang banyak tersebar di Benua Afrika ini memiliki toleransi tinggi terhadap suhu panas dibandingkan dengan kerabatnya si biawak air.

“Habitat aslinya di lokasi kering dan tandus. Biasanya membuat liang di dalam tanah atau bersarang di bawah semak atau pepohonan rendah,” jelasnya.

Ketika dipelihara, si majikan harus memastikan suhu udara dalam kandang di atas 32 derajat celcius (dilengkapi lampu UB/UV). Suhu dingin atau lembab dapat mengganggu kesehatan savmon.

Di habitat aslinya, savmon merupakan predator utama kaki seribu, jangkrik, kalajengking, siput, dan amfibi yang berukuran lebih kecil dari tubuhnnya.

Pola makan sedikit berubah saat menjadi hewan peliharaan, yakni dengan penambahan menu berupa potongan daging ayam, mencit, atau telur puyuh.

Populasinya yang tinggi, membuat biawak gurun ini sering diburu untuk diambil kulit dan dagingnya. Di tanah air, pecinta reptil mulai memelihara dan membudidayakannya sekalipun masih jarang yang berhasil.

“Mayoritas memang diimpor. Untuk anakan dengan ukuran 15 sentimeter sekitar Rp 750 ribu sampai Rp 1 juta. Kalau sudah 80 sentimeter bisa sampai Rp 2,5 juta,” ungkap Muchlis.

Untuk morph biawak guru nada dua, yakni normal dan albino. Nah, untuk jenis kedua ini, tidak ada patokan harnya. Muhclis menyebut suka-suka pemiliknya. Di Indonesia, belum didapati yang memelihara jenis albino.

Keistimewaan savmon lainnya yakni bentuk kepalanya mirip dinosaurus. "Itu alasan banyak digemari. Selain hewannya jinak, jarang yang punya, dan tidak perlu area luas untuk memelihara,” pungkas Muchlis. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Savannah Monitor #Biawak Gurun #Savmon #pecinta reptil #Varanus Salvator