Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mewaspadai Serangan Diabetes Melitus 

Damianus Bram • Minggu, 26 Juni 2022 | 23:00 WIB
Sudaryono, Sp.PD, Dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
Sudaryono, Sp.PD, Dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri.
RADARSOLO.ID - Diabetes melitus (DM) atau penyakit gula bisa membayangi siapa pun. DM tipe 2 adalah yang paling banyak diderita karena gaya hidup yang kurang sehat.

Ada sejumlah gejala yang bisa mengarah diabetes. Misalnya, banyak kencing, sering haus, dan penurunan berat badan yang tak jelas sebabnya. Ada pula yang tak memiliki gejala. Karena itu, diagnosis harus melalui pemeriksaan.

Sudaryono, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri dr. Sudaryono, Sp.PD, menjelaskan, ada empat klasifikasi atau jenis DM, yakni DM tipe 1, DM tipe 2, DM kehamilan dan DM tipe lain. “Yang paling banyak diderita masyarakat adalah DM tipe 2,” terangnya, Sabtu (25/6).

DM tipe 2 biasa menyerang orang dewasa karena gaya hidup tidak sehat. Faktor genetik juga memengaruhi. Gaya hidup yang kurang tepat, yaitu asupan gula berlebih. Itu menyebabkan pankreas bakal bekerja ekstra untuk memproduksi hormon insulin.

Hormon insulin berfungsi mengontrol kadar gula darah. Karena itu, pencegahan DM bisa dilakukan dengan cara menjaga asupan makanan. “Ketika asupan gula berlebih, maka diperlukan insulin dengan jumlah lebih tinggi untuk menormalkan. Tapi kalau terus-terusan memproduksi insulin dalam jumlah tinggi, pankreas bisa capek. Akibatnya, produksi insulin turun. Kalau sudah begitu, gula darah bakal tinggi,” beber Sudaryono.

DM tipe 2 juga bisa terjadi karena resistensi insulin. Meski asupan gula masih dalam taraf normal, jika terjadi resistensi insulin, maka sel tubuh tidak sensitif dengan insulin, sehingga sel tubuh tidak bisa menyerap gula dengan baik.

Itu juga bisa menyebabkan pankreas bekerja ekstra memproduksi insulin tambahan supaya gula bisa terserap. Jika berlangsung lama, produksi insulin pankreas dapat berkurang, sehingga gula darah menjadi tinggi.

Menurut Sudaryono, gula dibutuhkan oleh seluruh tubuh. Di antaranya sel otot untuk bergerak. Semakin berat aktivitas, maka akan butuh makin banyak tenaga yang diolah dari gula.

Nah, saat aktivitas seseorang kurang, dalam hal ini menggerakkan tubuhnya, maka dibutuhkan gula yang sedikit untuk bergerak. Yang menjadi permasalahan, asupan gula tinggi namun tidak digunakan. Maka kadar gula darah ikut terkerek.

Orang zaman dahulu, lanjut Sudaryono, lebih sedikit yang terkena DM. Sebab mereka lebih banyak menggunakan energi untuk aktivitas fisik berat. Antara lain bertani.

Tapi, di zaman sekarang, banyak orang yang bekerja kantoran, sehingga tak banyak melakukan aktivitas fisik, sedangkan asupan gula yang masuk ke tubuh banyak.

Lalu bagaimana solusinya? Sudaryono menyebut, olahraga rutin ampuh menjaga kadar gula darah tetap normal. Termasuk menjaga pola makan, berat badan ideal, dan mengelola stres.

Bagi yang telanjur mengidap DM, maka tenaga kesehatan akan menyarankan untuk lebih menjaga pola makan, rutin berolahraga, dan meminum obat.

“Dengan sosialisasi tersebut, pasien DM bisa memiliki kesadaran rutin mengendalikan gula darah. Tidak boleh bosan,” kata dia.

Selain itu, pasien juga bisa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan terkait asupan makanan yang pas. Dengan diet yang tepat, maka gula darah bisa terkontrol.

Diet bagi penderita DM sangat individual. Artinya, setiap pasien tidak bisa disamaratakan karena kebutuhan kalorinya berbeda. Ada pertimbangan tinggi badan, berat badan, bahkan aktivitas harian yang dilakukan pasien penderita juga bisa memengaruhi kebutuhan asupan makanan.

Tenaga kesehatan berupaya agar pasien DM tidak mengalami komplikasi. Tapi jika muncul komplikasi, maka diusahakan agar tidak lebih berat. (al/wa/dam) Editor : Damianus Bram
#Diabetes Melitus #RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso #Penyakit Diabetes