Sosok yang gandrung mendesain batik, tak lain Anggie Kurnia Rahma. Dia terbilang concern terhadap pelestarian kain batik. Bersama teman-temannya, Anggie sering mengenakan batik ke kampus.
Tren fashion batik yang diusung Anggie dkk bervariasi. Tak hanya batik sebagai kain atau pakaian saja. Di tangan mereka, batik bisa dipadu padan dengan outfit lainnya yang sedang nge-hits. Bahkan mereka juga sering menggelar pameran batik hasil karya mahasiswa di kampusnya.
“Kalau yang sekarang lagi viral istilah berkain wastra nusantara. Menunjukkan aktivitas menggunakan kain batik. Dan anak-anak muda sekarang senang sama aktivitas itu,” ungkap,” ungkap mahasiswa Program Studi (Prodi) Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut kepada Jawa Pos Radar Solo, Sabtu (31/12).
Selain mengenakan kain batik sebagai outfit, mereka juga mendesain sendiri motif batik buatannya. Sebagai mahasiswa kriya tekstil, Anggie memang memiliki ketertarikan terhadap batik. Ditambah lagi, ada mata kuliah (makul) Proses Batik. Mendukungnya mengasah bakat mendesain motif batik.
Kini, Anggie lebih memahami filosofi motif batik. Termasuk cara membedakan batik asli dan palsu. Termasuk batik tulis dengan batik cap. Dan lain sebagainya.
“Semakin lama mendalami batik, aku kian tertarik membuat desain motif sendiri. Kalau dihitung-hitung, sudah ada puluhan desain batik yang aku buat. Karena dari semester satu sampai lima, aku sering ikut lomba desain batik,” ujarnya.
Baru-baru ini, Anggie membawa pulang gelar juara 2 desain batik yang diselenggarakan pihak swasta. Dalam kompetisi itu, Anggie menawarkan desain batik Warak Kiteran Bung. Artinya, warak yang dikelilingi rebung atau tunas bambu. Terinspirasi dari kota kelahirannya, Semarang.
“Rebung sering digunakan sebagai isian lumpia, makanan khas Semarang. Kemudian ada motif lain berupa matahari dan garis-garis kontur. Merepresentasikan cuaca Kota Semarang yang panas. Serta memiliki kontur geografis Semarang atas dan Semarang bawah,” bebernya.
Ditanya kesulitan mendesain batik, Anggie mengaku cukup banyak. Biasanya kendala hadir saat menyusun konsep dan rancangan desain.
“Seringnya mengangkat motif batik dari hal-hal kecil di sekitar aku. Dari situ mulai membuat filosofi dan motif batiknya. Inilah yang msih jadi peer (pekerjaan rumah), yakni saat merepresentasikan cerita filosofi di balik sebuah motif batik,” ujarnya.
Ambil contoh saat Anggie ingin mengangkat cerita daerah ke dalam motif batik. Menurutnya, ini lebih sulit dibanding membuat motif batiknya.
“Karena kan harus menentukan bentuk motif sekaligus komposisi warnanya. Semua yang ada di dalam desain itu harus dipikirkan,” bebernya.
Di mata Anggie, membatik tidak sekadar membuat motif semata. Tapi juga wajib memikirkan konsep, desain, dan latar belakang karya tersebut. Dari sinilah dia semakin terasah dan terlatih membuat karya terbaik.
“Proses ini yang bikin aku senang sama batik. Jadi tantangan tersendiri buat aku untuk merepresentasikan sebuah cerita ke dalam motif batik. Sebenarnya, batik itu menyenangkan kalau bisa menikmati prosesnya. Dimulai dari memikirkan ide-idenya,” terangnya. (aya/nik/dam) Editor : Damianus Bram