RADARSOLO.COM- Media sosial (medsos) memberi ruang berbagai tren yang berkembang di tengah masyarakat. Salah satunya fenomena Sarkem Date di Pasar Kembang, Kota Solo.
Kalangan akademisi menyebut tren ini mengarah ke fearing of missing out (FOMO), alias kecemasan saat ketinggalan gaya.
Pakar Ilmu Komunikasi UNS Andre Noevi Rahmanto mengatakan, ikut-ikutan tren di medsos memang lekat dengan generasi Z (gen Z). Kondisi tersebut dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya indikasi FOMO.
Biasanya mereka cenderung harus segera mengikuti tren, begitu melihat teman-teman atau circle-nya menemukan hal baru di medsos.
Mulai dari spot yang menawan, gadget terbaru, kuliner kekinian, termasuk Sarkem Date ini. Biasanya FOMO menghinggapi remaja usia 25 tahun ke bawah.
"Nah, tren Sarkem Date ini tergolong positif di masyarakat. Apalagi Pasar Kembang dikenal sebagai salah satu pusat perekonomian di Kota Bengawan. Khusus menjual aneka jenis bunga, yang berdiri sejak 1963," ujarnya.
Biasanya Pasar Kembang hanya ramai ketika momen-momen tertentu. Seperti perayaan Valentine, sadranan, Hari Ibu, hari raya keagamaan, dan sebagainya.
Jika ada pengunjung yang datang tiap hari, itupun bisa dihitung jari. Hanya membeli bunga tabur untuk berdoa di makam kerabat.
Sarkem Date yang diinisiasi gen Z ini, membeli bunga untuk diberikan ke pasangannya. Kemudian diabadikan lewat foto, lalu di-upload di medsos.
"Jika diperhatikan secara seksama, sejatinya tren Sarkem Date bukan hal baru. Terutama momentum menyerahkan bunga ke pasangan tercinta. Kencan semacam ini sudah ada sejak zaman Yunani kuno," beber Andre.
Bedanya hanya terletak pada lokasinya. Biasanya pasangan memberi hadiah bunga di tempat-tempat yang romantis. Sebut saja di taman, restoran, cafe, mal, pantai, pegunungan, dan sebagainya.
Tapi Sarkem Date ini unik. Karena bunga diserahkan ke pasangan di Pasar Kembang, yang notabene lokasinya identik dengan pusat jualan bunga tabur. Jauh dari kesan romantis.
Selain itu, momentum Sarkem Date muncul di era perkembangan teknologi. Di mana tujuannya untuk memenuhi kebutuhan konten di medsos.
Sekaligus berburu pengakuan dari khalayak ramai alias netizen melalui konten tersebut.
Namun di luar itu semua, ada satu pelajaran berharga dan positif yang bisa dipetik dari Sarkem Date. Apalagi kalau bukan mendongkrak roda perekonomian lewat usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
"Karena seluruh pedagang bunga di Pasar Kembang meraup untung maksimal.
Setelah Sarkem Date muncul, praktis mengangkat pamor Pasar Kembang sendiri," terangnya.
Para pedagang bunga ketiban durian runtuh. Omzet mereka melonjak drastis. Bisa 10 kali lipat. Bahkan bisa lebih di akhir pekan.
Dan perlu diingat pula, namanya tren biasanya tidak akan bertahan lama. Maka para pedagang di Pasar Kembang harus sigap memanfaatkan momentum tersebut.
Harus pandai meramu formula agar Sarkem Date ini bisa bertahan lama. Supaya omzet yang diraup stabil dan berkelanjutan. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Maulida Afifa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono