Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Mengungkap Peran sang Bima pada Relief Pande di Candi Sukuh Karanganyar yang Gambarkan Penciptaan Keris

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 16 Maret 2024 | 04:09 WIB
Sang Bima yang tergambar dalam relief pande di komplek Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar.
Sang Bima yang tergambar dalam relief pande di komplek Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar.

RADARSOLO.COM- Relief pande di kompleks Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso menunjukkan proses penciptaan keris.

Nampak tiga figur dalam relief pande di kompleks Candi Sukuh, yakni dari kiri ada Bima, Dewa Ganeca, dan Arjuna.

Nah, kali ini, ketua I sekaligus Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyono membedah personifikasi Bima sebagai empu pande.

Dari sikap dan aksesoris yang dikenakan Bima pada relief pande di Candi Sukuh Karanganyar, maka sosok ideal seorang empu pande adalah sebagai berikut:

Bima memiliki mata “thelengan” dengan hiasan kepala sumping pudhak sinumpet dan memakai subang atau suweng panunggul manik.

“Itu bisa diartikan Bima enggan memamerkan pengetahuannya dan mempunyai kejernihaan dalam mata batinnya,” terang Ady.

Selain itu, Bima memiliki dahi lebar dengan “pupuk jaroting asem”. Diartikan Bima memiliki akal budi yang luhur.

Pangkal lengan memakai kelat bahu balibar manggis, dan pergelangan tangan
memakai gelang candrakirana.

“Artinya Bima suka memberikan pengetahuan sebagai sesuatu yang bermakna positif bagi sesama, bangsa dan negara,” beber Ady.

Tangan kanan Bima tidak memegang palu, tetapi menggenggam atau mengepal.

Artinya simbol persatuan dan kesatuan yang kukuh dan kuat yang dapat mengendalikan diri sendiri maupun panjaknya (pembantu empu sewaktu menempa).

“Itu agar selaras dan seirama sewaktu menempa agar menghasilkan karya yang sempurna,” ucap Ady.

Bima mengenakan dodot kunca, yaitu kain panjang yang bermotif kotak-kotak dan bercorak poleng bang Bintulu.

Di bagian paha bergambar porong naga karangrang. Artinya Bima bisa menguasai dan mengendalikan nafsu-nya.

Bima juga mengenakan Upavita dari pundak kanan melingkar di depan dada, ke arah pinggang sebelah kiri.

Hal ini menunjukkan perputaran yang tidak searah dengan putaran arah jarum jam, yaitu perputaran kekiri yang disebut prasawya (kebalikan dari pradaksina).

Artinya membuang kotoran-kotoran ke dunia
bawah’, sebelum meningkat ketingkatan yang lebih tinggi, maka kotoran-kotoran harus dihilangkan terlebih dulu.

Itu agar terjadi peningkatan dari jiwa yang rendah atua kotor menjadi jiwa yang tinggi atau bersih.

“Seperti kita ketahui bahwa sewaktu empu pande mewasuh bahan logam bertujuan membuang kotoran-kotoran agar nantinya mendapatkan logam yang bersih untuk nantinya meningkat nilainya. Baik secara lahiriah maupun spritnya,” urai Ady.

Menjadi benda yang secara lahiriah mempunyai nilai seni keindahan, nilai harga, maupun nilai spirit atau daya hidup yang ada pada karya keris tersebut. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#ngargoyoso #bima #karanganyar #keris #relief pande #Candi Sukuh