Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Mengungkap Simbol Dewa Ganeca pada Relief Pande di Candi Sukuh Karanganyar yang Gambarkan Penciptaan Keris

Tri wahyu Cahyono • Sabtu, 16 Maret 2024 | 12:52 WIB
Simbol Dewa Ganeca yang mengangkat satu kaki pada relief pande di kompleks Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar.
Simbol Dewa Ganeca yang mengangkat satu kaki pada relief pande di kompleks Candi Sukuh, Ngargoyoso, Karanganyar.

RADARSOLO.COM- Selain sang Bima, pada relief pande di kompleks Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar terdapat tokoh lainnya.

Di antaranya Dewa Ganeca. Bagaimana gambaran perannya dalam relief pande di Candi Sukuh, Karanganyar yang menggambarkan proses penciptaan keris?

Ketua I sekaligus Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyono membabarnya.

Menurut Ady, Dewa Ganeca dikenal sebagai dewa di saat memulai suatu pekerjaan. Juga dikenal dikenal sebagai dewa pengusir segala rintangan.

“Sudah menjadi tradisi masyarakat Nusantara yang sangat religius bahwa sewaktu akan memulai segala sesuatu, diawali dengan berdoa. Begitupun dalam mengakhirinya,” urai Ady, Sabtu (16/3/2024).

Begitupun sewaktu mengawali dalam pembuatan bilah keris. Maupun sewaktu mengakhirinya, yaitu pada saat ninthing, yakni kali pertama bahan-bahan keris, hingga sesudah bilah kersi jadi, yaitu sewaktu penyepuhan bilah.

Dewa Ganeca juga dikenal sebagai dewa pengetahuan dan kecerdasan. Pada proses pembuatan bilah keris, sangat dibutuhkan berbagai pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang empu pande.

Pengetahuan tersebut antara lain tentang pemanfaatan dan pengendalian api (Pyrotechnologi).

Berikutnya, pengetahuan tentang metalurgi, senjatam, spiritual, filsafat, seni, tata seni, estetika, ketatanegaraan, sosial, politik, dan sebagainya.

“Dewa Ganeca juga dikenal sebagai dewa yang berdiam di Muladhara Cakra, sebagai cakra pertama yang mengawali cakra-cakra berikutnya pada pemahaman Kundalini Yoga,” papar Ady.

Cakra-cakra tersebut merupakan simpul-simpul daya kuasa-Nya atau kekuatan ilahi yang terpendam dalam setiap diri manusia.

Hal tersebut akan aktif “menuntun” saat sang empu pande berkarya.

Pada relief pande di Candi Sukuh nampak Dewa Ganeca mengangkat satu kakinya. Itu dapat diartikan Dewa Ganeca sedang menari.

Gerakan tersebut dapat dimaknai bahwa Dewa Ganeca memanifestasikan dirinya seperti sang ayah, yaitu Dewa Ciwa dengan “Ciwa Nataraja”-nya.

Simbolisme Ciwa Nataraja (Sansekerta : Raja Tarian) adalah bahwa agama atau kepercayaan, seni, dan ilmu bergabung menjadi satu sebagai Nataraja atau raja tarian Ciwa.

Merupakan lambang pralaya. Sekaligus penciptaan yang tergambar dalam tarian yg menghapus dan meleburkan ilusi atau maya. Kemudian mengubahnya menjadi kekuatan dan pencerahan.

Juga bermakna bahwa penciptaan, pemeliharaan, peleburan, dan, penganugrahan (kemakmuran, kesejahteraan, kedamaian, melepaskan jiwa individu dari keterikatan atau ketergantungan belenggu duniawi dari kekuatan maya/ilusi) akan selalu terjadi di alam semesta.

“Dalam diri kita masing-masing, setiap saat, ribuan sel lahir dan mati. Jutaan sel tumbuh dan lestari. Di dalam tubuh kita pun daya kuasa Tuhan pun ‘menari’, tutur Ady.

Ditambahkan Ady, Ciwa Nataraja juga berarti bahwa dasar dan tujuan segala penciptaan karyaseni adalah bentuk pemujaan atau kebaktian manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. (wa)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#ngargoyoso #karanganyar #keris #relief pande #Candi Sukuh #dewa ganeca