RADARSOLO.COM - Tari sufi menjadi salah satu pilihan untuk menyemarakkan bulan suci Ramadhan. Tarian asal Persia dengan gerakan memutar ini, merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan rasa cinta kepada Allah SWT.
Di dalam menari sufi, setiap putarannya para penari melantunkan zikir. Dengan begitu tari sufi ini termasuk salah satu sarana dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hal tersebut dibeberkan pendamping tari sufi di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hidayah Al Mubarokah di Dusun Tempel, Desa Sempu, Kecamatan Andong, Boyolali Joko Siweha.
“Tari sufi bisa menjadi sarana untuk meningkatkan konsentrasi dan fokus. Karena fokus dan konsentrasi adalah langkah awal untuk berlatih tari sufi,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Joko pertama kali mengenal tari sufi dari Habib Husein bin Ali Assegaf, dari Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. Juga dari Habib Husein Uzlah dari Ponpes Nurul Ummah Grobrogan, Jawa Tengah.
“Kebetulan jika beliau ke Boyolali dan sekitarnya, saya selalu mendampingi. Dari sini saya mendapat ijazah untuk mendampingi santri berlatih tari sufi,” ujarnya.
Sekarang, Joko juga melatih tari sufi. Terkait waktu belajar tari sufi, anak asuh Joko bervariasi.
Ada yang langsung bisa dan tidak merasakan pusing. Ada juga yang butuh waktu seminggu hingga sebulan untuk menguasainya.
“Tantangannya harus ekstra sabar. Intinya telaten. Harus selalu menumbuhkan kreativitas untuk memotivasi anak-anak, agar mau berlatih tari sufi. Lalu setelah itu harus cari cara bagaimana anak-anak bertahan tetap berlatih,” paparnya.
Diakui Joko, setiap siswa yang berlatih tari sufi awalnya akan merasa pusing, mual, bahkan terjatuh. Saat mengalami kejadian itu, jika tidak diberi motivasi, si anak akan mudah menyerah.
Kendati demikian, Joko tidak mewajibkan setiap anak di ponpes anak untuk belajar tari sufi. Sehingga mereka berlatih atas kemauan sendiri.
“Justru ketika mereka pertama kali bilang mau ikut tari sufi, tidak serta-merta diterima. Ada seleksi dulu. Mana yang layak ikut latihan dan yang tidak, dengan syarat serta ketentuan berlaku,” bebernya.
Sementara itu, durasi tarian sufi tergantung lantai pijakan. Jika lantainya rata dan kuat seperti keramik atau ubin, penari bisa bertahan hingga satu jam. Sedangkan rata-rata menari sufi di kisaran 30-40 menit.
“Tapi kalau lantainya tidak rata atau miring, contohnya di atas panggung, mungkin sekira 5 menit saja. Terkadang kesulitan menjaga keseimbangan dan sering terjadi terpeleset,” ujarnya.
Sementara itu, tari sufi juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Ambil contoh beberapa anak yang dulunya sering migren, setelah rutin berlatih dan menari sufi, sekarang tidak lagi.
“Ada juga yang tadinya kalau berkendara jauh mabuk, setelah belajar tari sufi mabuknya hilang,” kata Joko. (nis/fer)
Editor : Damianus Bram