Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ini Makna Sosok Arjuna dan Binatang Anjing dalam Relief Penciptaan Keris di Kompleks Candi Sukuh Karanganyar

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 19 Maret 2024 | 13:28 WIB
Sosok Arjuna dalam relief pande di Candi Sukuh Karanganyar yang sedang memegang ububan” alat yang dipakai  untuk menghembuskan angin ke prapen agar api tetap menyala.
Sosok Arjuna dalam relief pande di Candi Sukuh Karanganyar yang sedang memegang ububan” alat yang dipakai untuk menghembuskan angin ke prapen agar api tetap menyala.

RADARSOLO.COM-Selain Bima dan Dewa Ganeca, pada relief pande di komples Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar yang menggambarkan penciptaan keris, ada sosok lainnya.

Sosok pada relief pande di Candi Sukuh tersebut adalah Arjuna. Nampak Arjuna yang memegang “ububan” alat yang dipakai untuk menghembuskan angin ke prapen agar api tetap menyala.

Dalam bahasa Sanskerta, arjuna berarti bersinar terang, putih, bersih. Artinya jujur di dalam wajah dan pikiran.

"Melambangkan niat suci dalam berkarya membuat bilah keris," kata ketua I sekaligus Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyono, Selasa (19/3/2024).

Menariknya lagi, pada relief pande di Candi Sukuh yang menyimbolkan penciptaan keris terdapat binatang anjing yang kepalanya menoleh melihat keluar.

Simbol binatang anjimng di relief pande Candi Sukuh Karanganyar.
Simbol binatang anjimng di relief pande Candi Sukuh Karanganyar.

Anjing tersebut tidak memperhatikan sang Bima saat menempa material keris.

Menurut Ady, binatang anjing dalam kepercayaan Ciwa/Hindu adalah sebagai penjaga pintu surga dan juga sebagai utusan Dewa Kematian.

Suasana besalen sewaktu empu pande bekerja menempa material keris ibarat surga.

Dimana daya kuasa-nya saat itu sedang bekerja dan atau menuntun bekerja maka harus dijaga.

"Tempat, suasana, dan kegiatan yang sedang berlangsung di besalen saat itu adalah tempat yang sangat-sangat Sakral," terang Ady.

Mengutip kisah dalam Adiparwa, imbuh Ady, ada seekor anjing bernama Sarameya yang diperlakukan secara tidak semestinya.

Hal tersebut menyebabkan gagalnya Upacara Yadnya yang dilakukan oleh Maharaja Janamejaya pewaris tahta Hastinapura.

Bahkan mendapat kutukan dari ibu si anjing yang bernama Bathari Sarama.

Kisah tersebut mempunyai makna bahwa segala permasalahan yang timbul saat berkarya, yang berupa godaan sekecil apapun harus disikapi dan diselesaikan dengan penuh kesabaran serta keikhlasan.

"Itu sebagai wujud memelihara hubungan yang harmonis, baik secara vertikal maupun horizontal kepada Sang Maha Pencipta maupun kepada sesama mahkluk ciptaan-Nya dan alam semesta, demi berhasilnya sebuah karya," beber Ady. (wa) 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#anjing #arjuna #karanganyar #keris #relief pande #Candi Sukuh