RADARSOLO.COM - Banyak yang menganggap bahwa keris puthut sajen pada masanya hanya sebagai pelengkap sesaji.
Karena fungsinya sebagai pelengkap sesaji, keris puthut sajen setelah 'disajikan', lalu dibuang.
Anggapan terkait keris puthut sajen yang hanya sebagai pelengkap sesaji, ditepis ketua I sekaligus Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyo.
Ditegaskan Ady, cikal bakal beragam dhapur (bentuk) keris diawali dari pembuatan jenis keris puthut sajen. Sebagai prototipe.
Keris puthut sajen dibuat secara iras. Artinya, bagian bilah sampai ke bagian tempat tangan (handle) memegang dibuat menyatu.
"Diwujudkan masih dalam bentuk seni primitif. Sering disebut puthut sajen. Merupakan prototipe dari keris yang ada sekarang ini," jelasnya, Minggu (24/3/2024).
Keris puthut sajen, lanjut Ady, merupakan karya seni primitif. Dibuat dengan sangat sederhana dan masih menunjukkan "keaslian ide dan gagasan" dari senimannya.
Atau suatu kelompok masyarakat yang belum terpengaruh oleh budaya kerajaan dan/atau kepercayaan dari luar yg datang.
"Oleh generasi selanjutnya, dan sesudah adanya kerajaan, karya primitif yang disebut keris puthut sajen tadi disempurnakan," terang Ady.
Disempurnakan artinya, mengikuti aturan kerajaan dan atau kepercayaan yang dianut oleh kerajaan pada waktu itu. Yang kemudian disebut seni klasik.
Bagian-bagian keris puthut sajen yang semula menyatu, mulai dipisah-pisah, sehingga ada yang disebut bagian bilah, gonja, mendak, dan ukiran (hulu atau handle tempat tangan memegang) seperti keris yang bisa dilihat saat ini.
"Keris puthut sajen sering disalahartikan bahwa keris ini hanyalah sebagai regalia kelengkapan sesaji yang nantinya dibuang. Pendapat ini ternyata tidak benar," tegas Ady. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono